23 September 2009

telat mudik

Hola, readers! Sekarang, gue lagi di JW Lounge @ Soetta International Airport, nunggu boarding ke pesawat menuju Semarang. Dan besok pagi, + jam setengah 7-an, gue pergi naik ferry ke..

pulau Karimunjawa!



tahukah di mana letak pulaunya? Ayo semuaa, ambil peta Pulau Jawa, halaman ...(gatau). Ya, pokoknya peta Pulau Jawa lah. Karimunjawa itu ada di sebelah utara-nya Jawa Tengah, di laut (iyalah namanya juga pulau ). Di situ, gue sekeluarga ikut tur gitu empat hari-an, trus balik lagi ke pulau Jawa, baru ke Pekalongan, batik hunting!


Intinya, gue gak bakal OL sampe hari Selasa depan, kecuali gue isi pulsa hape gue, dari semula berjumlah Rp. 0,- dari hari Senin setelah Sahur On The Road. Itu hari apa yaa? hahaha. Makanya, gue BUTUH banget charger pulsa
Oke, udah mau boarding nih (gaya). Ciao! Gue bawain oleh-oleh air laut ya

20 September 2009

'Selamat Merayakan Hari Menjadi Suci Kembali di tahun 1430 H!'


Lihat Kartu Ucapan Lainnya (KapanLagi.com)


Ketika matahari terbenam di ufuk barat, hari ini..
Kita tak akan merasakan nikmatnya tarawih
Kita tak akan lagi menunggu lailatul qadr
Kita tak akan lagi.. merencanakan bukpus" :D
Semoga kedepannya kita tetap beribadah dgn intensitas yg sama yaa..
Selamat Merayakan Hari Kembali Suci di tahun 1430 H!
-Dina-

16 September 2009

my interest.. and how to fulfil it

Hey-ho all!
Akhirnya setelah penantian yg begitu lama... 8 libur juga! hahaha lebay. Soalnya, bayangkan apa yg bakal terjadi kalo lo:

1. dari jam 6.30 - 15.00. Untungnya kalo puasa cuma sampe jam 12.00. Oh iya, apalagi jadwal kelas gue MAKNYUSS banget. 12 jam pelajaran masing-masing buat Chemistry, Biology, and Physics. Well, ujung-ujungnya molor di kelas :D

2. Sendirian, begitu lo sampe rumah. Dan gak boleh kemana-mana. Dan jauh juga dari mana-mana. And I have to do all the house chores. Kali ini gue ngerti perasaan suami yg ditinggal istri.. Masak, masak sendiri. Nyuci, nyuci sendiri..

Pokoknya kehidupan rumah adalah kehidupan suraaaam.. That's why I glad to stay longer at school.. Sabtu-Minggu kalo ada orang di sekolah, kayak malam Minggu kemarin gue ikut I'tikaf di sekolah. Walaupun gak banyak pesertanya, tapi membuat suasana i'tikaf yang ideal. Walhasil, gue cukup berhasil muroja'ah 4 surat juz 29

Beberapa scene dalam I'tikaf di Malam Minggu bersama Rohis (MAMI BARIS) -maaf ya ikhwan semua, soalnya akhwat yg bawa kamera cuma anak 2012-:


Idealnya, kalo i'tikaf itu..
tilawah al-Qur'an, khatamin

istirahat, kalo capek

tempat shalat tarawihnya akhwat.. saking sedikitnya jama'ah ikhwan

sahur.. kalo udah waktunya
TAPI, malah..

main

BONUS! Keajaiban bulan Ramadhan..

al-Qur'an melayang

pembuktiannya

lihat polanya!

(thanks to Hanif Satyo Prabowo for the picts)


Karena sudah libur, biasanya pada mudik, atau kemana kek. Yang gak punya kampung dan gak mudik kayak gue, liburannya TETEP DI RUMAH. Sungguh membetekan. Untungnya, adek gue pulang dari perantauannya di Anyer :D

Selain itu, ada juga bukpus-bukpus yg dilaksanakan beberapa hari setelah hari sekolah terakhir, karena diperkirakan pada belom mudik. Contohnya, bukpus LKS hari Minggu kemaren, tanggal 14 September 2009 di rumah Sandi. (mungkin) Seperti yang kalian duga, gue gak dibolehin :'( dan lagi-lagi gue ditipu mentah-mentah. Selain itu, ada juga bukpus-maker PMR yg sangat out of rundown paraah, yg dateng lumayan dikit, tapi menyisakan banyak makanan! enak! :p Akhirnyaaa gak ada utang lagi

Memang dasar anak yg jarang libur, setiap liburan selalu bingung mau ngapain. Soalnya kalo gak di-plan, pasti ujung-ujungnya laptop ckck. Gue pengen melakukan hal-hal yg berguna di liburan ini, seperti:

1. Belajar, dan praktekkan!
Pengen punya duit sendiri, tapi gak bisa kerja? Main option (salah satu) solusinya! Gue pengen nabung buat beli 'kado ulangtahun' gue. Dari gue, untuk gue. Daripada lumutan nunggu dikasih, mendingan cari duit sendiri. Ya kan?

2. Mengobrak-abrik sotosop
Tiga tahun terasingkan di hutan membuat gue lack of non-academic ability kayak main-main sama sotosop, atau bongkar PC :'( Ini udah nunggak bertahun-tahun

3. Mending nambah lagi sambil ngulang yg udah bisa, atau nambah aja? Intinya belajar foreign language. Titik.
This quote expresses my condition -and my abilities- very well. I'm not a good talker nor a good writer. How can I stay alive in this globalisation era if I only have one language to be mastered? Nanti gue tewas ditelan massa zz. Pengen ngelanjutin Norway. Pengen ngebagusin English. Pengen ngelanjutin Arab. Pengen ngelanjutin Jepang. Pengen nambah Prancis, Jerman, Hebrew, dll. Tapi syaratnya cuma satu-gak boleh les. Mesti otodidak. Agus Salim aja bisa, masa kita gak?

4. Browsing scholarship

Akhirnya, gue memutuskan pengen jadi insinyur OR arsitek. Pengen ambil teknik mesin di Jerman atau Jepang, OR landscape architecture di Prancis. Maka dari itu, gue pengen belajar banyak bahasa asing biar ke mana-mana gampang.. Kalo gak dapet, pengen di SSN (Sekolah Sandi Negara) juga boleh. Jadi Robert Langdon versi cewek Indo hahaha.


Dan liburan lebaran ini berakhir tanggal 30 September, dan masuk tanggal 1 Oktober, which is hari KAMIS. Guna banget belajar 2 hari sebelum midtest tanggal 5-nya doakan yaa semuaa :)

09 September 2009

Da'wah Dusta

Ada sebuah kisah cantik yang dikutip oleh Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan dalam Taujih Ruhiyah-nya. Kisah menarik ini, atau yang semakna dengannya juga termaktub dalam karya agung Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang khusus membahas para pencinta dan pemendam rindu, Raudhatul Muhibbin.

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulangkali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.

Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu.

Dan ia mendapat jawaban. ”Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.

”Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, ”Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”

Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”

”Betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”

Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. ”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. dan penyesalan yang tak berkesudahan.”

Si gadis ikut tertunduk. ”Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, ”Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”

”Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”

Kita cukupkan sampai di sini sang kisah. Mari kita dengar komentar Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan tentangnya. ”Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. ”Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ’ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”

”Tapi”, kata beliau memberi catatan. ”Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu?

”Kesalahan itu”, kata Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan memungkasi, ”Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? ”Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.”

Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Ya. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi meminjam istilah salah seorang Akh yang paling saya cintai dalam ’surat cinta’-nya yang masih saya simpan hingga kini, ini adalah ”Da’wah dusta!” Da’wah dusta. Da’wah dusta. Di jalan cinta para pejuang, mari kita hati-hati terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/Cinta Bersujud Di Mihrab Taat/Selingan Cinta dari Khazanah Lama
by Salim A. Fillah

05 September 2009

di-atas-tanggal (baca: update)

Sudah lama tidak mengepoooost~
Memang hidup saya (bisa jadi) tidak menarik, tapi setiap kehidupan orang berbeda kan? No one will occur the same series of moments, then it encourages me to keep writing until now..

Oh iya sekarang kan udah Ramadhan. Entah kenapa sepertinya resolusi Ramadhan gue agak macet. Mungkin gara-gara enam hari awal Ramadhan, gue gak puasa. You know lah, girls stuffs. Bener sih, katanya setan dibelenggu di bulan Ramadhan. Tapiiii guenya masih males :( AYO DEENZ! Emang bener kata suatu-quiz-yg-pernah-gue-mainin-di-FB, it's uneasy to motivate myself :( So, does anyone can motivate me?

Beberapa waktu yg lalu, gue ikut TPP (Tes Penyelesaian Pelajaran) Kumon level L, setara tingkat SMA. Dan hasilnya... failed. Gue kelompok 4, which is gue failed. Waktu ngerjain gue cepet, 15 menit dari maksimal 50 menit untuk 14 soal. Daaaan, tiga dari 14 soal itu tentang maksimum minimum biadaaaab. Entah kenapa gue gak suka dan gak ngerti dari dulu. Walhasil, gue ngerjain 11 soal kan. Tapi ternyata yg bener cuma tiga atau empat gitu. Akhirnya, retake deh. Oh iya, sebelumnya ada semacem perbaikan tes, jadi kita dikasih liat jawaban orang lain yg bener. Gue liat jawaban anak kelas 6 SD yg dia juga kelompok 4, tapi gara" waktunya kelamaan -___- Padahal jawabannya bener setengahnya. GILAK. Harusnya umur segitu gue udah ngerjain TPP level L juga. Tapi.. you know lah. Gue boarding 3 tahun, neglecting all those Kumon thingies. Jadinya berhenti bentar gara" UN, dilanjutin lagi pas SMA. Telat banget ya? Coba kalo diitung-itung, harusnya sekarang gue udah jadi completers (orang" yg udah namatin Kumon), atau minimal udah ngerjain level P atau Q. (note: Dulu, kalo namatin Kumon harus sampai level Q. Tapi entah-sejak-kapan, sekarang diturunin jadi level O, tapi ada level tambahan, yaitu level X)

Apalagi yaa yg menarik? 1 September kemaren, diumumin 16 BESAR CALON KETUA PENGURUS OSIS. Nama-namanya liat aja di blog Nisa yg ini nih. Komen gue? Sasugaa~ Semoga bisa membawa PO ke depannya ya :) Tunjukkan cermin angkatan 2011 yang sesungguhnya!

Udah gitu, gue kepilih sebagai cakaput Rohis 45. Reaksi gue... kaget! Soalnya kan masih banyak yg lebih baik dan berkontribusi.. Saya hanyalah seorang sekretaris gabut :( Semoga dengan ini, gue bisa lebih memperbaiki diri gue dan bisa bertindak selayaknya seorang akhwat sejati.

Pagi ini, gue baru balik dari acara BukPus Rohis 45, Mabit, dan Sahur on the Road. I experienced a very crowded Friday!

Jadi awalnya, hari Jum'at itu ada serangkaian BukPus Rohis dan BukPus sekolah. Awalnya, gue gak mau ikut bukpus sekolah, demi bukpus Rohis. Tapi, tiba" pas pelajaran, Pak Soleh masuk kelas, dan menekankan bahwa bukpus sekolah itu wajib! Wong cuma sekali dalam sebulan kok. Akhirnya dengan agak berat hati, gue bayar buat konsum bukpus sekolah. Tapi, gue berencana, jadi siangnya gue ke rumah Irfan (tempat diselenggarakannya bukpus Rohis), dan jam 4an gue balik ke sekolah buat ngelaksanain bukpus sekolah. Kalau memungkinkan, setor muka aja, terus
cabut lagi.

Ada kendala! Anak-anak pada bingung mau dateng ke sekolah ato gak. Akhirnya karena info dari Pras yg lagi di sekolah, bahwa Pak Soleh marah-marah, cuma anak Inter, yaitu gue, Khalda, Irfan, Naufal, dan Ardi aja yang ke sekolah. Pada saat itu juga, gue langsung telpon taksi, dan berangkat dari rumah Irfan jam 6 kurang 20 menit. And you can guess, kita buka di jalan. Dan taukah kalian, sampai jam berapa kita sampai di sekolah? JAM 7 KURANG 15. Beuh, mantep banget. Akhirnya ke kelas, absen, ambil makan-minum, balik ke depan tempat wudhu ikhwan buat nunggu yang lain. Ada Rahman, Khalda, Hanif, Rendra, kak Al, Emir, dll pokoknya banyakan deh. Tapi, kita mau berangkat pake mobilnya Rahman dan April, dan Irfan-Ardi-Naufal belom balik! Akhirnya gue balik ke kelas, take some shots (hehehe maaf yaa gerombolan-depan-ruang-wudhu :( ), ajakin Irfan-Ardi-Naufal ke tempat ngumpul, dan akhirnya berangkat pake mobilnya Rahman. FYI, gue semobil sama Noni, Khalda, Naufal, kak Baim, Ardi, kak Al, Emir, sama Rahman. Dan kak Baim meninggalkan kak Al menjadi 2010 sendiri di mobil itu dengan turun di tengah jalan zz. Tapi kak Al akhirnya meninggalkan rumah Irfan bareng Ardi.

Berangkat dari sekolah aja jam 7.15 malam, dan baru sampai jam 9 kurang-an :( Capek deeeeh. Abis itu sholat Isya, Tarawih, makan", baru sharing dengan tema yg sama waktu rihlah. Dengan berbekal tidur 20 menit-an, baru kami berangkat ke Kebun Sirih buat ngumpul Sahur on the Road. Dan lagi-lagi, kurangnya transport menyebabkan kita mesti pesen taksi lagi buat ke Kebon Sirih.

Sesampainya di Kebun Sirih, ada briefing sebentar sama ibunya Aya, pembagian transport, baru kita cabut ke Marunda. Sepanjang jalan kenangan jalan ke Marunda (lokasi Sahur on the Road), gue tiduuur aja. Abis, capek sih! Di Marunda, kita dengerin ceramah, sama sholat Subuh. OH IYA, MASUK TV LOOOH JAK TV. Yg tadi pagi nonton, you're the very lucky one! hehehe. Abis itu balik lagi ke Kebun Sirih, dan balik lagi ke 8. Sehingga sampai sekarang, gue SENDIRIAN masih ada di tempat sholat akhwat, lantai dua Masjid Darul Irfan, SMAN 8 Jakarta. Beteeee :(

Sekarang, di bawah lagi ada bazaar kejujurannya anak subsi Kemas (Kemasyarakatan). Rameee banget kayak Pasar Sabtu yang tiap pagi bikin Bukitduri Tanjakan macet -____-; hahaha. Murah-murah, baju, dress, dll cuma seharga 2000 - 5000 rupiah saja! Tentunya untuk warga sekitar 8 doong. Sama ada paket sembako murah, 5000 sepaket. Berminat? Jadilah warga sekitar SMAN 8 Jakarta ahahaha. Cukup sekian, arrive denci!

01 September 2009

Kekasih Standard vs Kekasih Sejati


Kekasih standard selalu ingat senyum di wajahmu
Kekasih sejati juga mengingat wajahmu waktu sedih


Kekasih standard akan membawamu makan makanan yang enak-enak

Kekasih sejati akan mempersiapkan makanan yang kamu suka

Kekasih standard setiap detik selalu menunggu telpon dari kamu
Kekasih sejati setiap detik selalu teringat ingin menelponmu

Kekasih standard selalu mendoakan mu kebahagiaan
Kekasih sejati selalu berusaha memberimu kebahagiaan

Kekasih standard mengharapkan kamu berubah demi dia
Kekasih sejati mengharapkan dia bisa berubah untuk kamu

Kekasih standard paling sebal kamu menelpon waktu dia tidur
Kekasih sejati akan menanyakan kenapa sekarang kamu baru telpon?


Kekasih standard akan mencarimu untuk membahas kesulitanmu
Kekasih sejati akan mencarimu untuk memecahkan kesulitanmu


Kekasih standard selalu bertanya mengapa kamu selalu membuatnya sedih?
Kekasih sejati akan selalu mananyakan diri sendiri mengapa membuat kamu
sedih?

Kekasih standard selalu memikirkan penyebab perpisahan
Kekasih sejati memecahkan penyebab perpisahan


Kekasih standard bisa melihat semua yang telah dia korbankan untukmu
Kekasih sejati bisa melihat semua yang telah kamu korbankan untuknya


Kekasih standard berpikir bahwa pertengkaran adalah akhir dari segalanya
Kekasih sejati berpikir, jika tidak pernah bertengkar tidak bisa disebut
cinta sejati

Kekasih standard selalu ingin kamu disampingnya menemaninya selamanya
Kekasih sejati selalu berharap selamanya bisa disampingmu menemanimu


dan ingat, cinta biasa dilandasi dengan, "Saya mencintai dia karena...". Tapi cinta sejati selalu dilandasi dengan, "Saya mencintai dia walaupun..."


source : lupa :( maaf yaa copasan mulu =_____=