29 March 2011

P.A.C.A.R.A.N, nggak atau iya? :p

Suatu pagi, belasan menit sebelum bel masuk berbunyi di SMA-ku, seorang teman melontarkan pertanyaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya,

“Fah, lo mau gue cariin pacar, gak?”

Hah? Dengan muka bingung, lantas berganti nyengir aku menjawab,
“Gak usah, Lin, nih aku dah punya banyak,” seruku sambil menarik buku-buku semi tebal dari dalam tas.

Gantian temanku yang cengengesan. Dasar.

Kali lain, teman seperjalanan pulangku bertanya, “Fah, kenapa sih kamu gak mau pacaran?”

Sambil berusaha menghindari genangan air di depan pasar Pondok Labu, aku berseru pelan,

“Kenapa ya, Sri?”

“Yee, orang nanya balik nanya.”

So?

Ini prinsipku, Sri. Tahu kan, kalau Allah sudah menjanjikan dalam Al Qur’an, perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Sepanjang kehidupanku, aku percaya janji Allah selalu benar.

Gini lho, kalau misalkan orang yang kita sayang menjanjikan sesuatu pada kita, kita akan dengan senang hati percaya, kan. Karena ibu, ayah, atau siapapun yang menyayangi kita akan berusaha menepati janji itu untuk membahagiakan kita. Kalaupun mereka tidak bisa menepatinya, mereka yang akan pertama kali bersedih karena keterbatasannya. Kalau manusia saja begitu, Allah pasti gak akan pernah menyalahi janji-Nya, karena Ia adalah Dzat yang paling mencintai kita, dan Ia adalah Penguasa Mutlak Alam Raya ini, Ia akan selalu memberi tanpa batas, tak ada yang bisa membatasi kekuasaan-Nya. Kalau Ia sudah berjanji, maka itu adalah sebenar-benarnya janji.

Perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, berarti Allah sudah memudahkan kita, kan? Kalau mau dapat pasangan yang baik, berarti yang harus kita lakukan adalah menjadi baik terlebih dahulu. Kalau misalkan mau dapat pasangan yang hafal Qur’an, misalnya, kita juga harus mulai menghafal Qur’an. Atau kalau mau dapat pasangan yang pengertian, kita juga harus mulai menjadi orang yang pengertian. Karena saat seseorang menetapkan standar pada dirinya, hal itu akan mempengaruhi pilihan-pilihannya di saat ia harus memutuskan sesuatu. Iya, kan?

Makanya, aku lebih memilih membenahi diriku dulu, membangun kualitas-kualitas yang kusukai, jadi nanti pas memang sudah waktunya, aku sudah lebih siap. Lagian kalau pacaran, kita jadi kehilangan waktu untuk membangun hal-hal itu, kan? Kita lebih banyak tersibukkan dengan hal-hal yang sekarang, mungkin iya kadang-kadang ada yang memikirkan untuk ke depannya, tapi itu juga gak menjamin. Banyak orang yang tidak menjadi dirinya saat menjadi seorang pacar. Ia berusaha terlihat sempurna, atau paling tidak ia hanya ingin sisi baiknya saja yang terlihat. Kalau gak, siapa coba yang mau jadi pacarnya, hehe. Tapi kalau menikah kan beda, saat kita menikahi seseorang, kita gak bisa memilih hanya menikahi sisi baiknya, harus sepaket sama sifat-sifatnya yang lain. Lho, jadi jauh gini ya ngomongnya, hehe.
Jadi, menurutku, kalau orang lain berdalih, “Saya pacaran untuk bisa lebih mengenal pasangan saya,” rasanya itu bukan jalan yang pas.

Lagipula, aku gak mau mencari sesuatu yang baik untukku dengan cara yang tidak baik menurut-Nya.

Pandangan aja harus dijaga, apalagi berdua-duaan. Tapi bukan artinya pacaran gak boleh. Pacaran boleh, kok, nanti kalau udah nikah, hehe..

Mungkin iya, kita bisa dapat pasangan yang terasa ‘cocok’ untuk kita, tapi aku takut, kalau Allah gak suka caraku untuk mendapatkannya, aku bisa kehilangan nilai keberkahan di dalamnya. Padahal, hidup kita di sini kan untuk mendapat cinta-Nya kan?

Saat itu, aku ingat salah satu kalimat yang sempat terpikir di baris otakku,

Pangeran akan datang jika sudah tiba saatnya.
Sebelum waktu itu tiba, pangeran dan putri harus saling menjaga dirinya masing-masing, supaya pertempuan itu lebih sempurna.


taken from: here

27 March 2011

I.M.U.L - d'Cinnamons

Taken from Putri's blog, and I'm so freakin bored today, so I'm gonna play this game

Jawab pertanyaan di bawah ini dengan judul lagu yg di shuffle dari music player, okay dech, cekidot!

Someone says are you okay you say?
Boyz, Boy Don't Cry - Suemitsu & The Suemith
(so actually... I'm a boy?)

How would you describe yourself?
Swimming In Miami - Owl City
("I am the captain of an oil tanker that travels through your veins"...?)


What do you like in a guy/girl?
Gold Digger - Glee Cast
(WHAT?? please gue bokek, jangan pelorotin gue lagi -__-)

How do you feel today?
No, Thank You - Yoko Hikasa (OST K-On!!)
(I choose not to feel anything, thank you)

What is your lifes purpose?
Tonight - Glee Cast
(What's gonna happen tonight?)

What's your motto?
T.M.G - Depapepe
(Tuhan, Masak, Gula - three of my favorite things #ngaco)

What do your friends think of you?
I Would Never.. - Mocca
(Never what?)

What do your parents think of you?
Auf Flugeln des Gesanges Short Version - Mendelssohn (La Corda D'Oro-Classic Collection)
("There we will lay down under the palm tree and drink of love and peacefulness and dream our blessed dream." Awwww :") )

What do you think about very often?
In A Rush - Blackstreet
(Yeah.. I like to rush things ;p)

What is 2+2? 
Kinjirareta Koi (Forbidden Love) - Depapepe
(So.. Double date is forbidden, huh?)

What do you think of your best friend?
Leaving on A Jet Plane - Justin Timberlake
(Bentar lagi udah pada mau pisah kaaaan :( )

What is your life story?
Awake - Secondhand Serenade
(Kenapa unyuuuu :3 )

What do you think when you see the person you like?
Ku Cinta Kau Lebih Dari Yang Kemarin - Abdul and the Coffee Theory
(AWWWWW kenapa unyuu lagi :3)

What will you dance to at your wedding?
Vakansi - White Shoes and the Couples Company
(gue nikah di pantai mungkin maksudnya - AMIN)

What will they play at your funeral?
Seandainya Aku Bisa Terbang - Kahitna
(Udah terbang kok, ke surga)

What is your hobby/interest?
This is How We Do - Glee Cast
(Do anything I want!!)

What is your biggest fear?
Rule My World - Kings of Convenience
(So, who will?)

What is your biggest secret?
Dewi Yang Sempurna - Andra and The Backbone & Alexa
(UPS!!! Ketahuan kan)

What do you want right now?
Sleeping to Dream - Jason Mraz
(YEAAAAY! Tag: @nfsoenardhi hahaha)

What do you think of your friends?
Dream A Little Dream - Glee Cast
("Just hold me tight and tell me you'll miss me." maunya dikangenin hahaha)

What will you post this as?
I.M.U.L - d'Cinnamons
(I Miss You Love? It's kinda....cenayang)

24 March 2011

Pak, Bu, dengarkan suara hati kami

Thursday, 15 July 2010


LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali.
Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah. Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu
guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?""Dari Indonesia," jawab saya. Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.
"Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!" Dia pun
melanjutkan argumentasinya.

"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.

Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan
jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.

Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di
depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah
telah menunjukkan kemajuan yang berarti." Malam itu saya mendatangi anak

saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil)
atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

taken from: kaskus

18 March 2011

Birthdate Facts!

In the middle of blogwalking, I found this awesome sites which will tell almost every fact about your date of birth. Let me show you mine:

Birthday Calculator
11 June 1993
Your date of conception was on or about 18 September 1992 which was a Friday.
You were born on a Friday
under the astrological sign Gemini.
Your Life path number is 3.

Your fortune cookie reads:
Your everlasting patience will be rewarded sooner or later.

Life Path Compatibility:
You are most compatible with those with the Life Path numbers 3, 6 & 9.
You should get along well with those with the Life Path numbers 1, 2, 5 & 11.
You are least compatible with those with the Life Path numbers 4, 7, 8 & 22.

The Julian calendar date of your birth is 2449149.5.
The golden number for 1993 is 18.
The epact number for 1993 is 6.
The year 1993 was not a leap year.

Your birthday falls into the Chinese year beginning 1/23/1993 and ending 2/9/1994.
You were born in the Chinese year of the Rooster.

Your Native American Zodiac sign is Elk; your plant is Mullein.

You were born in the Egyptian month of Mesore, the fourth month of the season of Shomu (Harvest).

Your date of birth on the Hebrew calendar is 22 Sivan 5753.
Or if you were born after sundown then the date is 23 Sivan 5753.

The Mayan Calendar long count date of your birthday is 12.19.0.3.5 which is
12 baktun 19 katun 0 tun 3 uinal 5 kin

The Hijra (Islamic Calendar) date of your birth is Friday, 20 Dhi'l-Hijjih 1413 (1413-12-20).
The date of Easter on your birth year was Sunday, 11 April 1993.
The date of Orthodox Easter on your birth year was Sunday, 18 April 1993.
The date of Ash Wednesday (the first day of Lent) on your birth year was Wednesday 24 February 1993.
The date of Whitsun (Pentecost Sunday) in the year of your birth was Sunday 30 May 1993.
The date of Whisuntide in the year of your birth was Sunday 6 June 1993.
The date of Rosh Hashanah in the year of your birth was Thursday, 16 September 1993.
The date of Passover in the year of your birth was Tuesday, 6 April 1993.
The date of Mardi Gras on your birth year was Tuesday 23 February 1993.

As of 3/18/2011 10:01:10 AM EST
You are 17 years old.
You are 213 months old.
You are 927 weeks old.
You are 6,489 days old.
You are 155,746 hours old.
You are 9,344,761 minutes old.
You are 560,685,670 seconds old.

Celebrities who share your birthday:
Shia LaBeouf (1986)Caroline Quentin (1961)Hugh Laurie (1959)
Joe Montana (1956)Adrienne Barbeau (1945)Chad Everett (1936)
Gene Wilder (1935)Vince Lombardi (1913)Jacques Cousteau (1910)

Your age is the equivalent of a dog that is 2.53972602739726 years old. (Life's just a big chewy bone for you!)

Your lucky day is Wednesday.
Your lucky number is 5.
Your ruling planet(s) is Mercury.
Your lucky dates are 5th, 14th, 23rd.
Your opposition sign is Sagittarious.
Your opposition number(s) is 3.

Today is not one of your lucky days!
There are 85 days till your next birthday
on which your cake will have 18 candles.

Your birth flower is ROSE

Your birthstone is Alexandrite

The Mystical properties of Alexandrite

Alexandrite can assist one in centering the self, reinforcing self-esteem, and augmenting ones ability to experience joy.
Some lists consider these stones to be your birthstone. (Birthstone lists come from Jewelers, Tibet, Ayurvedic Indian medicine, and other sources)
Pearl, Moonstone, Opal

Your birth tree is

Hornbeam, the good taste Of cool beauty, cares for its looks and condition, good taste, tends to egoism, makes life as comfortable as possible, leads reasonable, disciplined life, looks for kindness, an emotional partner and acknowledgment, dreams of unusual lovers, is seldom happy with her feelings, mistrusts most people, is never sure of its decisions, very conscientious.


Funny, isn't it? Here's the link. Enjoy :) And don't forget to tell me how's yours!

29 January 2011

My (officially) first time attending a concert!

Finally, I post it to my blog after being delayed for months! I'll tell you about a tremendous concert I attended that performed by a well known orchestra in Indonesia called Twilite Orchestra. Conducted by Addie MS, they performed several numerous classical numbers that used in a famous Japanese animation and series by the name of Nodame Cantabile. Let me tell you a bit about this.

Nodame Cantabile is the title of a Japanese comic series who had been adapted into animation and live drama. It's a story about Noda Megumi, a music school student who never take any concern of her lifestyle. She has a messy room along with her appearance. But behind those, she has a brilliant talent when it came to her piano playing. One day, she found her famous-for-his-handsome-appearance upperclassmen, Chiaki Shinichi, sat drunkenly on her door. Next day, Chiaki woke up by the sound of Nodame who plays the piano. Since then, he never know that she will be her fortune goddess who will change his life. It's worth to watch and read!

And because of this series is about the life of a music school student, there must be classical numbers played around-whether it's only for the background sounds or the characters who played ones. This series inspired Addie MS to bring it on and made a concert as a tribute to this wonderful series. As a big fan for the series, I bought the tickets. And my musical journey began here.

This concert is the first regular concert in 2011 by Twilite Orchestra. The concert will perform these pieces:

  1. Montagues & Capulets from “Romeo and Juliet” (Prokofiev). This piece is often played when the scene is getting intense, when the characters were going to argue.
  2. Symphony No. 7, 1st movement (Beethoven). The opening of Nodame Cantabile's live action drama!
  3. Etude Op. 10 No. 4 (Chopin). I forgot when this piece is played, sorry :(
  4. Petrouchka (Stravinsky). This is one of my favorite piece in this concert! It sounded very cheerful yet complex. This is played by Nodame when she was participating in a piano concourse.
  5. Rhapsody in Blue (Gershwin). Everyone who have ever watch Nodame should have known this piece. I can say that this is Nodame's signature piece. One of my favorite piece, too.
  6. Symphony No. 4, 1st movement (Mendelssohn). I also forgot when this piece is played in the series :(
  7. Piano Concerto No. 2 (Rachmaninov). This is the longest piece played in the concert. The orchestra played those three movements for about thirty minutes!
And the pianists who will play those pieces are:
  1. Levi Gunardi - he played Rachmaninov Piano Concerto. He played it very passionately and he is a great pianist, as his thirty-minutes piano playing told us.
  2. Kazuha Nakahara, - she played Rhapsody in Blue. She was really great! Right after she finished her playing, everyone in the auditorium gave her a standing applause. She was phenomenal.
  3. Gita Bayuratri - she played Chopin's Etude. She was an Indonesian conservatory student who study in German. 
  4. Victoria Audrey Sarasvathi - she played Stravinsky's Petrouchka. She was the youngest pianist who played in the concert, yet her piano playing didn't tell the audience so! She had won several piano competitions around the world, and now she's studying in a conservatory in Europe. Guess how old is she? Yes you're right. She's 13.
With these amazing pianists and numbers, you can expect how great the night is. It was phenomenal. It's a performance of a lifetime. Although I was asleep for a while in the middle of the concert due to the day's exhaustion, I can tell you, this concert is worth to watch!

Actually, I have a picture with Kazuha Nakahara and my friends, but it's gone :(

 
The conductor, Addie MS, conducted his orchestra

Kazuha Nakahara, a Japanese pianist who played Rhapsody in Blue

24 January 2011

Nü Year: New spirit, new life, new problems

Selamat H+23 Tahun Baru!! Ini postingan pertama saya di tahun ini.

Tahun Baru 2011 merupakan pertanda buat saya dan teman-teman kelas 12 lainnya, bahwa ini adalah 5 bulan terakhir kami sebagai anak sekolah. Dimulainya semester kedua seharusnya jadi semester yg bener-bener serius, karena hidup-mati dunia perkuliahan ada di semester ini.

Dan semester ini adalah semester super galau. Semua orang galau. Dari pemerintah yg menghapus PPKB atau PMDK, ujian mandiri yg dihapus, sistem penerimaan PTN yg kembali ke format jadul dengan SNMPTN, dan gak heran kalo semua keputusan galau dari pemerintah kita yg galau ini bikin angkatan kami galau.

Gimana gak? Semuanya dilontarkan tiba-tiba. Ujian mandiri dihapus, ini agak bikin teman-teman saya kocar-kacir. Biaya pendaftaran sudah ditransfer, formulir sudah diisi, dan akhirnya..... dibatalin. Tiba-tiba. Saya pikir, PTN itu cukup berani utk mengambil langkah berani, tapi ternyata PTN itu ikutan galau gara-gara banyak yg udah daftar, sementara pemerintah hampir menuntut PTN tersebut. Hhhh.

Balik ke SNMPTN? Ini agak 'bermasalah' bagi saya, karena dengan bayangan ujian mandiri yg dilaksanakan 3-4 bulan sebelum masuk, kami mendapatkan liburan ekstra sebagai upah kerja keras kami selama setahun ini. Tapi nyatanya....balik lagi ke SNMPTN yg diadakan 1.5 bulan sebelum masuk PTN. KAMI BUTUH LIBURAN PAK, BU!!!! *marah*.

Dan klimaksnya adalah pembatalan PMDK. Beberapa teman saya ada yg mendaftar PMDK UI untuk kelas reguler maupun Internasional. Dan ternyata, PMDK UI untuk kelas Reguler dialihkan ke SNMPTN Undangan. Serius, ini kasian banget. Teman-teman saya yg sudah mendaftar dari akhir November, harap-harap cemas dengan hasilnya, dan ternyata berita yg mereka dapatkan bukanlah apa yg mereka harapkan. Kesel gak sih? Rasanya kayak tikus yg dipancing keju ke rumah tikus yg lebih bagus, padahal nyatanya gak lebih dari tembok biasa. Sakit banget. Sedangkan PMDK UI Inter ditunda sampai April.

Indonesia, Indonesia. 65 tahun umurmu, masih galau juga? Kalah dewasa dengan Singapore dan Malaysia yg jauh lebih muda darimu.

Kesemua itu memang tidak saya alami secara langsung, tapi yang paling bikin saya sakit hati adalah kegalauan ibu saya. Awalnya dia menasehati saya utk tidak ikut tes masuk NTU/NUS, fine. Saya terima dengan lapang dada walaupun sedikit sakit hati. Kemudian, dia menjanjikan saya untuk mengikuti preparation class khusus untuk kuliah ke negeri orang, fine. Saya seneng banget, karena memang jurusan yg ingin saya masuki hanya ada di negara itu. Dan terakhir yang saya tahu, dia memalsukan pernyataan orang lain dalam keputusannya, di mana sebenernya semua itu hanya keputusannya semata. Dan membatalkan janji secara sepihak. Siapa yg gak sakit hati? Saya lebih senang kalau permasalahannya sudah dikatakan di awal pembicaraan, kalau saya memang gak boleh keluar negeri. Tapi, dia memaksakan keinginan pribadinya, ditambah dia mengikuti saran orang lain yang seharusnya tidak ikut campur dengan masalah ini, yang menghasilkan keputusan yg tidak menyenangkan ini. Dan dia tidak henti-hentinya membicarakan bagaimana dunia kedokteran dibutuhkan di dunia, dan bla bla bla.

Ah, entahlah. Mungkin kalau keputusannya memang masih dipaksa jadi dokter, saya lebih memilih utk tidak kuliah sama sekali. Gak ada yg lebih gue benci di dunia ini -setelah satu orang yg menyebalkan- selain dunia kedokteran. Mending buka bisnis, atau apakek. Padahal saya udah ikut fingerprint test atas rekomendasi Putri, di mana saya bisa mengetahui bakat yg saya emban secara genetik. Dan hasilnya adalah: saya lebih cocok jadi pebisnis daripada pekerja professional seperti dokter. Tapi apa tindak lanjutnya? Gak ada. Dia bahkan gak mendukung saya utk jadi apapun itu selain dokter. 

Haaaaah kebanyakan curcolnya nih. Maap yey, blog saya ini kebanyakan curcol, hehe :D

"And I can't fight this feeling anymore.. I've forgotten what I've started fighting for.." - Can't Fight This Feeling, Reo Speedwagon

(Next post: Mungkin tentang konser Cantabile! yang akan saya tonton Kamis ini. Remind me!)