Showing posts with label catatanHARIAN. Show all posts
Showing posts with label catatanHARIAN. Show all posts

15 December 2010

I'm back from the past!

Hey readers! I just got back from this hectic exam-sessions (which is non-stop from midterm test - A level - semester test. Aaaah what a life -__-) and I'm sure that both of us won't discuss about these things, so let's just skip it.

October had passed, and November arrived. This month started with demisioner (sort of inauguration for the newly chosen Student Council). My juniors were being inaugurated, then we as seniors, retired from exciting yet tiring organization year. I'll miss those moments a lot! Spent times with friends, chat about these and those, terrified with deadlines, dealt with papers, proposals, and more, skipped class to attend some events, and lots. These kind of experience are...priceless. I don't want to trade it with anything else.

Right after the inauguration ceremony, there's some surprises that I got. I was called to come forward for my achievement in AS level exam last season. I got A for my AS level Mathematics, woohooo! I got certificate and cash too, haha!

October and November are terrifying months for I had to take my A level exam. I took Mathematics, Physics, and Chemistry. I also missed those moments when I skipped class in purpose of study for the next exam, but it turns out to be chatting sessions! But not only chatting, we also played some games such as Transformice which was a hit at that time, because it was so exciting when we played it together in the same room. You should try it!

A week after the exam-and-not-exam examination, we got to catch up materials that we left during the exam session. A week for two months, yeaaaah. Nothing better than that. After that, here comes the bribe!

 I don't want to discuss it furthermore, I want to talk about the after exam activity. I was having remedials, yeaaah. No doubt. And the most highlighted one is... I went to the movie with my elementary school (and hopefully, lifetime) bestfriend, Rifa! I was so thrilled to meet her because we haven't met since both of us took MAN Insan Cendekia entrance exam. It's been like..two or three years ago! Although we're little bit late for the movie, but we're having such a quality time after that. Having lunch together, catch up for the lost six years of separation (cheesy, huh? haha). Sadly, we haven't took pictures during the meeting, so you can't see how the years do change us.

I do too!

Today is the start of early holiday, and the day after tomorrow is the report card giving day! Let's..hope for the best >_<.

04 September 2010

Spend Rp 165K for nothing

This horrible things started about one or couple of weeks after I enrolled this hectic year. When I was offered to have a test called "Tes Minat Bakat" to see what talent we possess, and how it combines with your interest and help you to choose the desired university major. The test takes about 6 hours, doing a set of questions and tasks. And my results are:

1. Bachelor of Art - Architecture
2. Bachelor of Science - Information Technology
3. Bachelor of Art - Visual Communication Design

And for the interest, the consecutive choices based from things I desired the most are Mechanical, Practical, and Art.

When I were going to take this test at first, I hope it'll swell my parents' heart and make them realized that I have no talent in being a doctor. The result of my intelligence test is not too bad at all. But things that they haven't notice is: my creativity quotient is same with the numeric. Why I have to make it important? Because my prominent power that I possess since I was a kid is numerical quotient. When the creativity thingy comes with the same rate with the numeric, it means creativity is my newest prominent power! And do you know what my bloody hell mother said when I tell her I want to pursue Architecture?

"Architecture is for creative person. You're not a part of it."

AAAAHHHHH shoot you shoot me kayak cinta laurahh. I really hate people judgements when they didn't know the way you are. They (in this case: my parents) only know that I have to be a doctor. They tends to know everything about their children when the truth is, they know nothing. They may judge the absent of the creativity within me because they may have no art-tendency blood relation. But maybe, the existence of creativity comes from the very-very-utmost-ultimate-mega resistive chromosome which was sleep within me. Once it was detected and trusted people said it was exist, they deny it with all power they have. It really pissed me off. My 165K rupiah flew away that easy and got no change.

Gosh, how I terribly wanted to study abroad so I can earn my own money and cut the money-source bond between me and my parents :'( Blame my junior high moments, their forces to make me enroll it with their dreams to make me more independent which makes me almost ignore their existence. I do. I already do.

30 June 2010

What I wish to be and what they told me to be

Ohisashiburi, readers! Setelah sekian lama vakum karena ke(sok)sibukan saya ke sana-sini, jadi blog ini sedikit terbengkalai dan hampir masuk kategori 'Tidak Layak Baca'. Mungkin kalau blog ini sampah, udah di-daur ulang mungkin.

Hari Sabtu kemarin baru terima rapot dan alhamdulillah cukup memuaskan. Dan cukup shock karena mengetahui bahwa ranking 1 kelas saya rata"nya sembilanempatkomaan, saya mengambil kesimpulan bahwa kelas XII nanti belajarnya bener-bener gak boleh kedistract sama apapun kalo mau mendapatkan hasil maksimal. Karena saya orang yg cukup sensitif terhadap bunyi-bunyian (jadi kalo ada bunyi sedikit bakal gak fokus)-kecuali kalau saya tidur karena saya orang yg lumayan kebo *blak-blakan dikit lah*. Pengen jadi nerd setahun biar bisa menuai buah yg manis nantinya.

Gak kerasa banget. Bener-bener gak kerasa kalo udah ngelewatin kelas XI. Tahun yg disibukkan oleh organisasi, tahun di mana materi pelajaran lagi hot-hotnya digenjot, tahun yang paling cepet yg pernah saya laluin, beneran. Rasanya baru kemarin ada berita Mama Lauren meninggal, dan gue baru nyadar kalau berita itu muncul bulan Mei (gak penting sih, tapi anehnya saya bener" kaget pas tahu kalo berita itu muncul bulan Mei. Gue sangkain awal Juni atau kapankek). Satu minggu di kelas XI ini berasa sekejap mata banget. Tahu-tahu udah episode baru Maid Sama aja (Author note: Maid Sama tayang tiap Minggu malem, jadi kalo udah ada iklan"nya, gue agak parno soalnya gak nyadar udah mau ganti minggu).

Hal yg paling meresahkan hingga saat ini adalah: saya masih milih" jurusan kuliah yg disetujui sama ortu. Karenaaaaaa tipikal ortu Indonesia adalah profit oriented. Kalo mereka gak ngeliat perspektif kerja yg jelas buat kedepannya, mereka gak bakal setuju sama jurusan yg dipilih sama anaknya. Dan ujung-ujungnya menyarankan satu jurusan yg paling saya tidak sukai: kedokteran.

Kenapa kedokteran?

Menurut sumber yang (sepertinya) terpercaya (baca: orangtua saya), katanya saya punya bakat. Entah apakah itu penilaian yg subjektif atau tidak (karena sebagian besar keluarga saya adalah dokter), karena menurut saya sendiri, saya bingung wujud dari bakat yg mereka maksud itu berupa apa. Apakah karena banyak orang yg saya pijit dan mereka bilang pijitan saya enak, lantas saya punya bakat untuk menyembuhkan orang? Nggak kan? Seharusnya mereka membiarkan saya jadi tukang pijit kalau itu contohnya.

Selain itu, mereka bilang saya punya kapasitas otak yg memadai. INI JELAS SAYA BANTAH. Karena bukti konkret menunjukkan kalau nilai terjelek saya di rapor adalah Biologi, di mana pelajaran itu merupakan landasan pengetahuan yg berbau kedokteran dan sejenisnya.

Dan yg paling gak make sense, mereka bilang bahwa orang-orang yg mereka tinggikan (baca: ulama terkemuka di suatu daerah - FYI, keluarga saya cukup rajin menyambangi mereka, tanpa tahu mereka menjalani Islam secara kaffah atau tidak, jadi ulama yg disebutkan di sini agak kurang saya percayai kebenarannya) berkata bahwa saya pasti jadi dokter. Untuk ukuran orang yg baru pertama kali bertemu, hal itu gak make sense sama sekali. Mungkin karena hampir semua orang bilang kalau saya carbon copy ayah saya persis - cuma beda gender doang, sehingga mereka bilang kalo saya punya muka dokter. YA IYALAH. Coba kalo ayah saya petani, mereka pasti juga bilang kalo saya pasti jadi petani.

Mungkin untuk ukuran anak 8 yang mayoritas pengen masuk FKUI, saya termasuk anak-anak anomali. Kenapa saya gak pengen jadi dokter?
1. Jam terbangnya terlalu tinggi. Profesi dokter menuntut pelakunya untuk melayani pasiennya tanpa kenal waktu. Contoh gampangnya, rumah sakit gak ada yg punya rentang waktu operasional dari jam 07.00 - 21.00 kan? (misalnya). Ini menunjukkan bahwa selama rumah sakit buka, masih ada dokter yg bekerja di dalamnya, walaupun waktu itu di luar jam kerja praktiknya. Seperti ayah saya yg pernah baru pulang ke rumah jam 4 pagi dan berangkat lagi ke rumah sakit jam 7 pagi. Hal-hal ini bertentangan dengan saya yg senang hal-hal yg rutin dan gak bisa begadang alias kerjaannya tidur mulu.

2. No work, no money. Selama anda tidak bekerja, anda tidak akan mendapat uang. Saya lebih suka pekerjaan yg menghasilkan passive income, sehingga saya gak perlu kerja banyak untuk menghasilkan income yg sama besar seperti orang yg bekerja. (baca: saya orang yg malas)

3. (kalau insyallah saya punya keluarga kedepannya) Quality time dengan keluarga, terutama anak saya, akan berkurang. Dengan realita sekarang, di mana saya adalah anak seorang dokter dan pegawai swasta yg susah cuti, saya jaraaaaaang sekali menghabiskan waktu bersama keluarga primer saya. Singkat kata, saya lebih suka dibilang 'anak nenek' atau 'anak pembantu' dibanding 'anak mama', karena kenyataannya saya lebih sering berlibur sama nenek-kakek dan menghabiskan waktu di rumah dengan pembantu. Saya gak ingin hal ini terjadi dengan anak saya nantinya, jadi mendingan saya bekerja di rumah atau kerja yg menghasilkan passive income.

4. (obviously) It's definitely not my thing! Saya lebih suka menghitung daripada merelasikan pengetahuan yg saya baca dengan kasus yg saya hadapi atau dengan kata lain studi kasus. Saya gak suka melihat sesuatu yg gak normal - orang yg badannya tertancap kaca-lah, orang yg kecelakaan sampai berdarah"-lah, bahkan saya gak kuat ngeliat orang berdarah karena kebeset kaleng! Saya gak suka mengambil resiko, saya bukan orang yg rajin, dan pastinya saya bukan orang yg kuat untuk belajar ilmu kedokteran selama 7 tahun!

Maka dari itu, saya lebih prefer ambil:

1. Mechanical Engineering

Mechanical engineering is a discipline of engineering that applies the principles of physics and materials science for analysis, design, manufacturing, and maintenance of mechanical systems. It is the branch of engineering that involves the production and usage of heat and mechanical power for the design, production, and operation of machines and tools.

2. Electrical & Computer Engineering


Computer engineering, also called electrical & computer engineering, computer science & engineering, or computer systems engineering, is a discipline that combines both electrical engineering and computer science. Computer engineers usually have training in electronic engineering, software design and hardware-software integration instead of only software engineering or electronic engineering.

3. Architecture
Architecture (Latin architectura, from the Greek ἀρχιτέκτων – arkhitekton, from ἀρχι- "chief" and τέκτων "builder, carpenter") can mean:
  • The art and science of designing and erecting buildings and other physical structures.
  • The practice of an architect, where architecture means to offer or render professional services in connection with the design and construction of a building, or group of buildings and the space within the site surrounding the buildings, that have as their principal purpose human occupancy or use.[1]
  • A general term to describe buildings and other structures.
  • A style and method of design and construction of buildings and other physical structures.

Pengennya ngambil di luar negeri, tapi salah satu panelis seminar tentang sekolah di luar negeri bilang gini: "Kalo mau belajar di luar, mending S1-nya di Indonesia biar
punya basic pengetahuan yg sama, jadinya kalo mau kerja di Indonesia lagi, gak perlu susah" belajar ujian persamaan. Baru nanti S2-nya di luar. Tapi kalo mau S1-nya di luar, mending ambil major yg gak ada di Indonesia, jadi anda punya pengetahuan yg gak umum, tapi pada kenyataannya bisa diimplikasikan di Indonesia, karena gak banyak orang punya kemampuan tersebut."


Nah, PR liburan saya sekarang adalah mencari jawaban dari opsi kedua panelis tersebut, karena...saya entah kenapa gak minat sekolah di Indonesia, terutama UI. Saya belom mengeksplor UI terlalu dalam sih, tapi sepertinya saya tipe "judge the book by its cover"- kalo mau masuk teknik, masuk ke kampus yg ada nama 'teknik'nya, kayak ITB. Bilang saya freak, tapi itulah saya.

Salah satu yg bikin saya bingung memilih jurusan karena saya kebanyakan hobi. Saya suka belajar bahasa asing. Saya suka main biola. Mungkin kalo saya udah durhaka sama orangtua saya (astaghfirullah, jangan sampe!), saya udah ambil sastra bahasa asing sama teori musik.
NB: passive income: pendapatan yg didapatkan tanpa bekerja-biasanya berupa royalti atau hasil bermain saham

Karena pekerjaan tidak akan jadi membosankan selama kita masih punya passion di bidang itu :)

11 April 2010

Current affair

It seems that I haven't told about current conditions - money, career, love life (is it a blog or a fortune-teller web?) because it seems that I put my opinion more and I think this blog is more likely become more religious than before because of it, hehe.

My life is becoming a nightmare lately. I think too many problems in one time:
1. A Level exam is getting closer, about one month from now. I'm too lazy to study, whereas I take four subjects and there is a day when I take three papers directly! I also got some bad scores here and there, and I need extra learning time.

2 . I also take part in Rohis' big event, 8 MISSION (8 Islamic Skills Competitions) as a secretary. Luckily, this job is only get the chaotic moments before and after the event is over. But apparently, we need extra work to earn money to support this event, and all Rohis activists become the fund-raising team, which means I have to earn money too -___-.

3. Beside that, I'm presiding over an event, which is Blood Donor (Donor Darah) and I can't leave that because my co-partner is also busy with her job, and the event is going to be held on the same day as 8 MISSION, so we get more blood donors than last year (which we only get fifteen donors :'( ) and I haven't make the appointment, and so on and on.

Huaaaaah I'm suffocating. I become more vulnerable lately. It's just my school life problem. Haven't mentioned my love life problem (which I've silently mentioned on my previous post), my usual home problem - alone. I really hate to be alone. This is a problem which won't end, because this is my risk of being in a full-time school. Nobody will take care of a full-time high schooler like they care about a full-time elementary schooler.

I miss my childhood badly. I miss how my angel was always there for me *crying* (Not to mention that I was so spoiled, but I need her in some certain condition, like accompanying when I was cooking. Not all the time like all babysitters did). I miss how she treated me like the-kids-say-it's-their-mother's, because as long as I can remember, my own mother never treated me that way. I remember how hard I cried when she left me. Alone, and I cried about four consequent night. She's more than just a perfect mother replacement.

Past will always be past. God won't let the time reversed no matter how hard we cried. Because past is the best guidance if you want to learn how to face life.

27 February 2010

Literally addicted to Literature!

Semua kegilaan ini berawal di SMP, ketika guru saya menugaskan kami untuk membaca buku novel sastra tempo doeloe, jang notabene dihiasi kata kata seperti ini. Satu-dua halaman dibaca, ditemani kitab suci kebahasaindonesiaan alias KBBI sebagai teman membaca novel usang itu. Tapi pada akhirnya, buku itu seperti morfin - minta dibaca lagi, dan selama sebulan setelah membaca novel itu, saya gak bisa ngerti novel novel remaja! Lebay memang, tapi kenyataannya memang begitu! Bahasa dapat mengungkapkan suatu rasa tanpa kita harus larut di dalamnya. Ini adalah salah satu cerpen kesukaan saya:

Calon Buat Ajeng

Penulis : Asma Nadia

Calon Suami???!

Pfui, kuhembuskan nafasku kuat-kuat. Bosan aku. Lagi-lagi calon suami yang dibicarakan. Bayangin, sudah dua bulan ini tidak ada topik yang lebih trend di rumah, selain soal suami.

Mulai dari Papi yang selalu nyindir, sudah pengen menimang cucu. Mami yang berulang-ulang menasihatiku agar jangan terlalu pilih-pilih tebu. Lalu Bambang, adikku, yang kuharap bisa menetralisir suasana, tak urung ikut menggoda. Bahkan si kembar Rani-Rano, yang masih es em pe pun, ikut-ikutan menceramahiku.

”Mbak Ajeng kan udah jadi insinyur, udah waktunya dong, mikirin berkeluarga. Lagian, Rani sama Rano kan udah pengen dipanggil ’Tante dan Oom’. Tika aja yang baru kelas enam, keponakannya udah empat!”

”Iya, Mbak. Jaman sekarang, perempuan itu harus agresif. Mbak Ajeng sih, kerjanya belajar ama ngaji melulu!” Rano menimpali kata-kata kembarnya.

Aku hanya bisa melotot, nemu di mana lagi pendapat kayak gitu.

”Udah sana kalian belajar!” hardikku agak keras.

”Tuh, kaaaan?!?” seru mereka berdua kompak.

Huhh, dasar kembar!

***

”Ajeng…!”

Kudengar panggilan Mami dari depan. Pelan aku bangkit dari meja belajar. Setelah merapikan jilbab, aku keluar.

”Ada apa, Mi?” tanyaku lunak. Sekilas sempat kulihat sosok seorang lelaki, duduk di sudut ruangan.

Kedua bola mata Mami tampak bersinar-sinar. Oo…Oo…! Pasti ada yang nggak beres, gumamku dalam hati. Iiih..su’udzon! Tapi….

Benar saja.

“Ajeng, kenalin. Ini tangan kanan Papi di kantor. Hebat, ya! Masih muda sudah jadi Wakil Presiden Direktur. Ayo, kenalin dulu. Ini Nak Bui….”

”Boy, Tante!”

”Eh, iya. Boi!”

Aku hanya bisa menahan geli. Mami…Mami…!

Rasa geliku mendadak hilang, ketika selama dua jam berikutnya aku harus mendengarkan obrolan Mami dengan Si Boi tadi.

Bukan main, lagaknya! Batinku menggerutu sendiri, mendengar cerita-ceritanya yang melulu berbau luar negeri.

”Jadi, Tante, selama belajar di Harvard, saya sudah coba-coba berbisnis sendiri. Hasilnya lumayan. Saya bisa jalan-jalan keliling Amerika, bahkan Eropa setiap kali holiday!”

Hihhh, gemas aku! Terlebih melihat pancaran kagum di wajah Mami. Benar-benar nggak peka nih anak. Kok bisa sih nggak merasa dicuekin? Tetap aja ngomong. Tak perduli aku yang cuma diam dan sesekali manggut. Kupanjatkan syukur yang tak terkira ketika akhirnya Si Boi pulang. Alhamdulillah!

***

Kulihat Bambang tertawa. Kesal, kulemparkan bantal ke arahnya. Orang cerita panjang lebar minta advise, kok cuma diketawain?!?

”Bang, serius, dong! Pokoknya kalau nanti Mami nanyain kamu soal Boy, awass kalau kamu setuju!” ancamku serius. Bambang masih cengar-cengir.

”Mbak Ajeng gimana, sih? Biasanya Mbak yang nyuruh aku sabar menghadapi segala sesuatu. Lho, kok sekarang malah panasan gini? Tenang aja, Mbak, sabar! Innallaha ma’ashshabirin!” balasnya sambil mengutip salah satu ayat di Al-Quran.

Iya, ya. Kenapa aku jadi nggak sabaran gini. Baru juga ngadepin si Boy. Astaghfirullah!

”Mbak bingung, Bang! Habis serumah pada mojokin semua. Kamu ngerti, kan, milih suami itu nggak mudah. Nyari yang shalih sekarang susah. Mbak nggak pengen gambling. Salah-salah pilih, resikonya besar. Nggak main-main, dunia akhirat!”

Sekejap, kulihat keseriusan di matanya. Cuma sekejap, sebelum ia kembali menggodaku.

”Apa perlu Bambang yang nyariin???!”

Lemparan bantalku kembali melayang.

***

Kriiiiing…!!!

Ups, kumatikan bunyi weker yang membangunkanku. Jam tiga lebih seperempat. Aku bangun dari tempat tidur, bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Kuperhatikan lampu kamar Bambang masih menyala. Sayup-sayup suara kaset murattal terdengar.

Tercapai juga niatnya untuk begadang malam ini, pikirku. Heran, kebiasaan menghadapi ujian dengan pola SKS (Sistem Kebut Semalam) masih membudaya rupanya.

Cepat kuhapuskan pikiran tentang Bambang dan ujiannya. Mataku nanar menyaksikan pantulan wajahku di cermin. Kuhapus tetesan air wudhu yang tersisa dengan handuk kecil. Oooohh, begini rupanya gadis di penghujung usia dua puluh sembilan? Kuperhatikan bentuk wajahku yang makin tirus. Baru kusadari, betapa pucatnya wajah itu. Entah kemana perginya rona merah yang biasa hadir di sana. Mungkin hilang termakan usia. Ya Rabbi, pantas saja Papi dan Mami begitu khawatir. Sudah sulung mereka tak cantik, menjelang tua, lagi!

”Ir. Ajeng Prihartini.” Kueja namaku sendiri.

”Jangan cemas ya ukhti, ini bukan nasib buruk!” Bisikku menghibur. Bagaimana pun aku harus tetap tawakkal pada Allah. Jodoh, rizki, dan maut, Dia yang menentukan. Berjodoh di dunia bukanlah satu kepastian yang akan kita raih dalam hidup. Tidak, ada hal lain yang lebih penting, lebih pasti. Ada kematian, maut yang pasti kita hadapi. Sesuatu yang selama ini sering kuucapkan kepada saudaraku muslimah yang lain, ketika mereka ramai meresahkan calon suami yang tak kunjung datang.

”Sebetulnya kita ini lucu, ya? Lebih sering mempermasalahkan pernikahan, hal yang belum tentu terjadi. Maksud Ajeng, bergulirnya waktu dan usia, nggak seharusnya membuat kita lupa untuk berpikir positif terhadap Allah. Boleh jadi calon kita ini nggak buat di dunia, tapi disediakan di surga. Mungkin Allah ingin memberikan yang lebih baik, who knows?” ujarku optimis, dua tahun yang lalu.

Astaghfirullah! Ishbiri ya ukhti, isbiri….

Tanganku masih menengadah, berdoa, saat kudengar azan Subuh berkumandang. Hari baru kembali hadir. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, untuk satu hari lagi kesempatan beramal dan taubat, yang masih Kau berikan.

***

Selesai berurusan dengan Mami untuk masalah Boy, gantian aku harus menghadapi Tante Ida yang siap mempromosikan calonnya. Duhh! Lagi-lagi aku cuma bisa manggut-manggut.

”Tante sih terserah Ajeng. Pokoknya lihat aja dulu. Syukur-syukur Ajeng suka. Dia anak lurah. Bapaknya termasuk juragan kerbau yang paling kaya di Jawa. Tapi nggak kampungan, kok. Anak kuliahan juga seperti kamu!” promosi Tante Ida bersemangat.

Dua hari kemudian, Tanteku itu kembali datang dengan ’balon’nya.

”Junaedi. Panggil aja Juned!”

Aku hanya mengangguk. Tak membalas uluran tangan yang diajukannya.

Selama pembicaraan berikutnya, berkali-kali aku harus menahan diri, untuk tidak lari ke dalam. Aku tidak ingin menyinggung perasaan Tante Ida. Apalagi beliau bermaksud baik. Hanya saja, asap rokok Juned benar-benar membuatku mual. Malah nggak berhenti-henti. Habis sebatang, sambung sebatang. Persis lokomotif uap jaman dulu!

Dengan berani pula ia mengomentari penampilanku.

”Eng…jangan tersinggung ya, Jeng. Aku suka bingung sendiri ngeliat perempuan yang memakai kerudung. Kenapa sih tidak pintar-pintar memilih warna dan mode?! Aku kalau punya isteri, pasti tak suruh beli baju yang warna-warnanya cerah, menyala. Sekaligus yang bervariasi. Seperti yang dipakai artis-artis kita yang beragama Islam itu lho, sekarang. Ndak apa-apa toh sedikit kelihatan leher atau betis?! Maksudku biar tidak terlihat seperti karung berjalan gitu lho, Jeng! Hahaha….”

Kontan raut mukaku berubah. Tanpa menunggu rokok keenamnya habis, aku mohon diri ke dalam. Tak lama kudengar suara Juned pamitan. Alhamdulillah.

Ketika Tante Ida menanyakan pendapatku, hati-hati aku menjawab.

”Maaf ya, Tan…, rasanya Ajeng nggak sreg. Terutama asap rokoknya itu, lho. Soalnya Ajeng punya alergi sama asap rokok. Mana kelihatannya Juned perokok berat, lagi. Maaf ya, Tan…, udah ngerepotin.”

Bayang kekecewaan tampak menghiasi raut muka Tante Ida.

”Bener, nih…nggak nyesel? Tante cuma berusaha bantu. Ajeng juga mesti memikirkan perasaan Mami sama Papi. Susah lho, nyari yang seperti Juned. Udah ganteng, dokterandes lagi! Terlebih kamu juga sudah cukup berumur.”

Bujukan Tante Ida tak mampu menggoyahkanku. Dengan masih kecewa, beliau beranjak keluar. Sempat kudengar Tante Ida berbicara dengan Papi dan Mami. Sempat pula kudengar komentar-komentar mereka yang bernada kecewa, sedih. Ya Allah, kuatkan hamba-Mu!

Hari berangsur malam. Aku masih di kamar, mematung. Beragam perasaan bermain di hatiku. Sementara itu, hujan turun rintik-rintik.

***

Siang begitu terik. Langkahku lesu menghampiri rumah. Capek rasanya jalan setengah harian, dari satu perpustakaan ke perpustakaan IPB lainnya. Namun buku yang kucari belum juga ketemu. Padahal buku itu sangat kuperlukan untuk menghadapi ujian pasca sarjanaku sebentar lagi. Sia-sia harapanku untuk bisa beristirahat pulang ke Depok. Kereta yang kutumpangi benar-benar penuh. Sudah untung bisa berdiri tegak, dan tidak doyong ke sana ke mari, terdesak penumpang yang lain.

”Assalamu’alaikum!” perasaanku kembali tidak enak, melihat Mami yang tidak sendirian. Seorang lelaki berjeans, dengan sajadah di pundak, dan kopiah di kepala, tampak menemani beliau. Jangan…jangan….

”Wa’alaikumussalam. Nah, ini Ajengnya sudah pulang. Ajeng, sini sayang. Kenalkan, Saleh. Putera Pak Camat yang baru lulus dari pondok pesantren di Kalimantan. Kalian pasti bisa bekerja sama mengelola kegiatan masjid di sini. Lho, Ajeng…, kok malah diam? Maaf Nak Saleh, Ajeng memang pemalu orangnya.”

Duhh, Mami!

Kali ini Mami membiarkanku berdua dengan tamunya itu. Risih, kuminta Rani mendampingiku. Dia setuju setelah aku janji akan menemaninya mendengar ceramah di Wali Songo, pekan depan.

Selama Saleh berbicara, aku menunduk terus. Bisa kurasakan pandangannya yang jelalatan ke arahku. Dengan gaya bahasa yang tinggi, Saleh bercerita tentang berbagai kitab berbahasa Arab yang telah dia kuasai. Bukan main. Lalu ia mulai membahas satu persatu perbedaan pendapat di kalangan umat Islam. Soal doa qunut, perbedaan doa iftitah, masalah posisi telunjuk ketika tahiyat, dan lain-lain yang senada.

Terus terang, aku tidak begitu setuju dengan caranya. Betul bahwa semuanya harus kita ketahui. Tapi bagiku, dengan makin meributkannya, hanya akan memperuncing perbedaan yang ada. Cukuplah bahwa masing-masing berpegang pada sunnah Rasulullah. Tentunya akan lebih baik, jika kita justru berusaha mencari titik temu atau persamaan, dan bukan malah memperlebar jurang perbedaan.

”Kalau menurut Saleh, kasus Bosnia itu bagaimana?” tanyaku mengalihkan perhatian.

”Oooh, itu. Ane sangat tidak setuju. Menurut pendapat dan analisa ane, tidak seharusnya masalah Bosnia itu digembar-gemborkan. Itu akan membuat sikap tersebut kian membudaya. Sudah saatnya pola sikap ngebos, dan penghargaan masyarakat terhadap orang-orang yang punya kedudukan, diarahkan sewajarnya. Agar tidak berlebihan.” ulasnya panjang lebar.

Gantian aku yang bingung.

”Saya…saya tidak paham apa yang Saleh maksudkan.” ujarku sedikit gagap.

”Kenapa? Apa karena bahasa yang ane gunakan terlalu tinggi atau bagaimana, hingga Ajeng sulit memahami?”

Aku tambah melongo.

”Bukan itu, ini…, Bosnia yang mana, yang Saleh maksudkan?” tanyaku makin bingung.

”Lha, yang nanya kok malah bingung?! Yang ane bicarakan tadi ya tentang Bosnia, Boss-Mania, kan maksud Ajeng?!!”

Ufh, kutahan tawa yang nyaris meledak. Bingung aku, ternyata masih saja ada orang yang meributkan hal-hal yang relatif lebih kecil, dan melupakan masalah lain yang lebih besar. Dari sudut mataku, kulihat Rani pringas-pringis menahan geli, sambil mempermainkan kerudung pink-nya. Lucu sekali.

”Bukan, yang Ajeng maksudkan adalah penindasan yang terjadi pada saudara-saudara muslim kita di Negara Bosnia.” aku berusaha menjelaskan dengan sabar.

Tampak Saleh manggut-manggut.

”Ooooh, yang itu. Ya…jelas penindasan itu tidak bisa dibenarkan. Tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan keadilan,” ujar Saleh optimis, lalu….

”Ngomong-ngomong, Bosnia itu di mana, sih?”

Tawa Rani meledak.

Duhhh, Mami!!!

***

Malamnya, waktu aku protes ke Mami, soal calon-calon itu, tanpa diduga, malah Mami yang marah.

”Lho, kamu itu gimana toh? Kata Bambang kamu maunya sama Saleh. Pas Mami temuin, kamu bilang bukan yang seperti itu yang kamu inginkan. Jadi sebenarnya, Saleh yang mana calon kamu itu?” suara Mami meninggi.

Aku terhenyak. Bambang yang duduk di kursi makan tersenyum simpul. Awas, kamu de’! Bisikku gemas.

”Bukan yang namanya Saleh, Mi. Ajeng ingin orang yang saleh, yang taat beribadah. Orang yang punya pemahaman paling tidak mendekati menyeluruhlah, tentang Islam. Yang Islamnya nggak cuma teori, tapi ada bukti. Yang nggak jelalatan memandang Ajeng terus-terusan dari ujung jilbab sampai kaos kaki, seperti hendak menawar barang dagangan. Ajeng tahu, usia Ajeng sudah jauh dari cukup. Ajeng juga pengen segera menikah. Perempuan mana sih, yang tidak ingin berkeluarga, dan punya anak?” lanjutku hampir menangis.

”Tapi…, tolong. Jangan menyudutkan Ajeng. Tolong Mami bantu Ajeng agar bisa tetap sabar, tetap tawakkal sama Allah. Kita memang harus berusaha, tapi jangan memaksakan diri. Biar Ajeng mesti nunggu sampai tua, Ajeng siap. Daripada bersuamikan orang yang akhlaknya tidak Islami. Tolong Ajeng, Mi…tolong!” Kusaksikan mata Mami berkaca-kaca. Diraihnya aku ke dalam pelukannya. Berdua kami berisakan. Papi turut menghampiri, menepuk-nepuk pundakku. Rani dan Reno terdiam di kursinya.

”Maafin Mami, sayang….” suara Mami lirih, memelukku makin erat.

***

Kesibukanku menulis diary terhenti.

”Mbak Ajeng…telepon tuh!” pekik Rano keras.

”Dari siapa? Kalau dari Anto Boy, Didin, Juned, atau Saleh, Mbak nggak mau terima!” balasku agak keras.

Hening, tidak ada panggilan lanjutan dari Rano. Aku lega.

Alhamdulillah, sejak kejadian malam itu, perlahan topik trend kami bergeser. Mami tidak lagi menyodorkan calon-calonnya, sebelum menanyakan kesediaanku. Beberapa Oom dan Tante yang datang, harus pulang dengan kecewa karena promosi dibatalkan. Aku masing ingin menenangkan diri dulu.

Kuraih pena. Dengan hati seringan kapas, aku mulai menulis:

Kepada Calon Suamiku….

Usiaku hari ini bertambah setahun lagi.

Tiga puluh tahun sudah. Alhamdulillah. Kuharap, tahun-tahun yang berlalu, meski memudarkan keremajaanku, namun tidak akan pernah memudarkan ghirah Islamiah yang ada. Mudah-mudahan aku bisa tetap istiqamah di jalan-Nya.

Ujian pasca sarjanaku sudah selesai. Sebentar lagi, satu embel-embel gelar kembali menghiasi namaku. Belum lama ini aku juga mengambil kursus jahit dan memasak. Dengan besar hati pula, Mami mesti mengakui, bahwa kemahirannya di dapur, kini sudah tersaingi.

Alhamdulillah, sekarang aku lebih bisa berkonsentrasi untuk menulis, dan memberikan berbagai ceramah di beberapa kampus dan masjid. Baru sedikit itulah, yang bisa kulakukan sebagai perwujudan syukurku atas nikmat-Nya yang tak terhitung.

Calon suamiku….

Aku maklum, bila sampai detik ini kau belum juga hadir. Permasalahan yang menimpa kaum muslimin begitu banyak. Kesemuanya membentuk satu daftar panjang dalam agenda kita. Aku yakin ketidakhadiranmu semata-mata karena kesibukan dakwah yang ada. Satu kerja mulia, yang hanya sedikit orang terpanggil untuk ikut merasa bertanggung jawab. Insya Allah, hal itu akan membuat penantian ini seakan tidak pernah ada.

Calon suamiku….

Namun jika engkau memang disediakan untukku di dunia ini, bila kau sudah siap untuk menambah satu amanah lagi dalam kehidupan ini, yang akan menjadi nilai plus di hadapan Allah (semoga), maka datanglah. Tak usah kau cemaskan soal kuliah yang belum selesai, atau pekerjaan yang masih sambilan. Insya Allah, iman akan menjawab segalanya. Percayakan semuanya pada Allah. Jika Dia senantiasa memberikan rizki, padahal kita tidak dalam keadaan jihad di jalan-Nya, lalu bagaimana mungkin Allah akan menelantarkan kita, sedangkan kita senantiasa berjihad di sabil-Nya?!

Banyaklah berdoa, Calon Suamiku, di manapun engkau berada. Insya Allah, doaku selalu menyertai usahamu.

Wassalam,

Adinda

NB: Ngomong-ngomong, nama kamu siapa, sih?

”Syahril… Nama saya Syahril.”

Deg! Aku tersentak. Pena yang kugenggam jatuh. Rasa-rasanya kudengar satu suara. Sedikit berjingkat, aku melangkah ke depan. Sebelum aku sempat menyibak tirai yang membatasi ruang makan dengan ruang tamu, kudengar suara Papi memanggilku.

”Ajeng…!”

Hampir aku terjatuh, saking tergesanya menghampiri beliau. Sekilas mataku menyapu bayangan seorang lelaki berkaca mata, yang berdiri tak jauh dari Papi, dengan wajah tertunduk, rapat ke dada. Di belakangnya, Bambang berdiri dengan senyum khasnya.

”Nah, Nak Syahril, kenalkan, ini yang namanya Ajeng. Puteri sulung Oom. Lho, kok malah nunduk?” suara ngebas Papi kembali terdengar.

Aku menoleh sesaat, yang dipanggil Syahril tetap menunduk.

”Ayo, salaman. Ini lho, Jeng…puteranya Mas Wismoyo, sahabat Papi sejak jaman revolusi dulu, sekaligus Ass Dos-nya Bambang di FISIP. Baru lulus ya Nak?”

Syahril mengangguk. Tapi, tetap tak ada uluran tangan.

”Assalamu’alaikum, Ajeng. Saya Syahril.”

Masya Allah! Aku masih melongo, terpana.

“Insya Allah, hari ini saya akan berta’aruf dengan Ajeng. Kalau Ajeng setuju, khitbahnya bisa dilaksanakan besok. Sesudah itu…mudah-mudahan kita bisa jihad bareng….”

Agak samar kudengar kalimatnya yang terakhir. Kulihat Papi tersenyum lebar, melirikku.

”Apa, Jeng…khitbah? Ngelamar, ya…??”

Aku mengangguk pendek, tersipu. Tawa Papi makin lebar.

Aku masih terpana.

Masya Allah, calon suamiku…eng…engng…ups, apakah…apakah…ini, kamu???

* Pemenang Harapan I LMCPI Annida.

Sumber : Majalah Annida, No. 12 1415 H/1994 M


Dan puisi dari seorang penjelajah hidup yang paling kusukai:

Senja ini, ketika matahari turun dalam jurang-jurangmu

Aku akan kembali

Ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna

Aku bicara denganmu tentang cinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu

Seperti kau terima daku

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi

sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada

Hutanmu adalah misteri segala

Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semata

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti

Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan bicara padaku tentang kehampaan

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi tanda tanya

tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita menawar

terimalah dan hadapilah”

Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara

Aku terima ini semua

Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

Aku cinta kamu Pangrango

Karena aku cinta pada keberanian hidup


Soe Hok Gie. Jakarta, 19-7-1966


Bahasa mengungkapkan karakter sang pencipta. Semakin lembut bahasanya, semakin lembut pula hatinya. Entah kapan aku bisa mencipta seperti itu.

25 December 2009

I miss this :)

Kangen ngebloooog :)
Maaaaaaaf banget akhir-akhir ini jarang nge-blog, soalnya koneksi lagi bener-bener gak dewa, sama sekali. Malah dikasih modem axis yang konek setengah jam langsung abis 100 ribu. PARAH BANGET :((((

Setelah Idul Adha, acara selanjutnya adalaaah:

1. EDUTOUR SINGAPORE!! Seperti yg sudah gue jelaskan sebelumnya, EduTour itu kayak Goes To Campus, tapi ke Singapore. Dan kalo gue bilang, lebih mirip wisata kuliner dan tour beneran daripada EduTour. Oh iya anyway, gue ikut yang Science ke NTU buat workshop. Awalnya bete berat, hari pertama workshop Physics. Mana gue sempet ketiduran pas lagi presentasi hahaha. Tapi gak separah seseorang yg pas presentasi, udah tidur, ngorok pula! Sampe presentatornya (anak NTU) bilang, "Are we that boring?". Hahaha paraaaah. Trus sok-sokan ngerti (biar cepet ngejelasinnya -_-"), dan akhirnya haripun selesai. Besoknya workshop Chemistry, seru bangeeeet! Mengekstrak kafein dari teh, pake alat-alat canggih kayak spektroskopi (maklum wong deso :p), trus ada sentrifugasi yg diatur temperaturnya, pokoknya keren deh! Maaf jadi belajar -_-"

Satu hal yg paling gue inget dari NTU..
CHICKEN CHOPNYA YG ENAK PARAAAAAH

Chicken chop itu semacem steak ayam yg disajikan dengan mash potato dan salad, trus kita bisa milih mau pake butter rice ato spaghetti. Kita juga bisa milih pake cream sauce ato bolognaise sauce. Itu yang namanya ayam, lembuuuuut banget. Pemilihan sausnya pas, trus saladnya standard sih, lettuce. Mash potato juga, muanteeeeep rek! Pas workshop terakhir di NTU (workshop chemistry), kelompok workshop gue (Asty-Dana-Dinda) akhirnya mesen makanan yang sama (setelah nyicip punya gue kemarinnya, hahaha), tapi GAK HABIS! Dan akhirnya, gue ngabisin semuanya sampe bener-bener bersih. POKOKNYA GUE MESTI BISA BIKIN YANG SAMA! (maaf ya jadi OOT -_-')

Selain ke NTU, anak Science juga ke NUS, SIM, SMU. Tapi gak seseru di NTU sih, soalnya gak workshop. Dan selain GTC juga, kita jalan-jalan! Ke Merlion Park naik boatnya, ke Sentosa Island nonton Song of the Sea (which made me wished Bau would come along with me :D), sama tempat makannya yang macem-macem, mulai dari masakan Malaysia, Thailand, Jepang, pokoke maknyus! Aaaaahhhh kangen pengen ke Singapore lagiii :) Soalnya kalo sama orangtua gue, gak bakal bisa kayak gini :'(

2. SUMATIF! Aduh ini sih udah no comment ya. Menyisakan jejak-jejak remedial yang lumayan banyak: Chemistry 2 papers, Physics Paper 1, B. Indo (tapi gak jadi remed gara-gara yg gak remed cuma satu orang). Kalo gak salah sih cuma segitu, tapi kayaknya masih ada deh

3. BAGI RAPOT Ini lebih gak komen lagi ya, soalnya gue belom terima rapot gara-gara...

4. KE BANGKA Ya, ini pulau Bangka pasangannya pulau Belitung, tempat shooting Laskar Pelangi itu. Dan pas mau berangkat, dari pesawatnya take-off jam 6-an, delay sampe jam 12! Parah bangeeeet. Di sananya gak sempet jalan-jalan banyak, DAN GAK SEMPET KE PANTAI. Crap. I love beaches a lot :) Tapi udah beli oleh-oleh sih untungnya.

5. CINEMA MARATHON Saking bener-bener bosen di rumah, akhirnya gue memutuskan buat nonton 2 film berturut-turut di bioskop yg berbeda. Pertamanya nonton Avatar 3D di eX (dan ketiduran -_-), trus Alvin and the Chipmunks 2 di Stibud, hehehe. Proud to be Bolang!

Dan rencana liburan selanjutnya, kayaknya gue bakal kebanyakan belajar (muna). Tapi kayaknya bakal ke Bandung, atas permintaan adek gue gara-gara gak jadi ikut ke Bangka. Satu hal lagi yang pengeeeeen banget gue lakukan di liburan ini:


Gue kangen bangeeeet main biola! Setelah tercampakkan selama 4 tahun, kayaknya dia pake "Attract User", dan akhirnya dia pengen gue pake #cenayang. Hehehe. Kemaren setelah di stem di MG Store Gramedia Matraman (tapi stemnya fail -_- dan akhirnya gue bisa nyetem sendiri *kayaknya*), beli rosin dan violin polish, gue coba 'murojaah' yg pernah gue mainin. Tapi ternyata..... BRIDGENYA KUDU DIGANTI (bridge: kayu agak putih yang ada ditengah"plat hitam bagian atas dan bawah, dan diantara 2 bolongan 'f' itu), jadi kalo gesek satu senar, yg lain ikut kegesek :( Semoga bisa main lagi, trus bisa ikut Taman Suropati Chamber, amiiiin!

26 November 2009

Aloha Singapore! (?)

Gak kerasa udah ada di penghujung bulan November.
Gak kerasa udah ada di pertengahan masa" di 8.
Gak kerasa udah selesai sumatif MIPA, walopun masih ada sumatif susulan pelajaran lain. (That's why I post this late -_-")
And the test had ended today, yeaaay :)

Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya, udah selesai sumatif nih? Bukannya minggu depan? Kok ada sumatif susulan? Kesemua itu akibat dari ikutnya saya dalam kegiatan EduTour 8 ke Singapore.

Kegiatan ini semacam goes to campus, tapi (mungkin) dikarenakan anak 8 banyak banget, dan jadwal tidak menakdirkan kami untuk bersama (FYI, di 8 hampir gak ada libur. Mati lampu aja masih tetep sekolah -_-"), maka dari itu hanya diselenggarakan secara sepihak oleh kelas Inter (bisa jadi karena kami telah selesai ujian IGCSE, di mana kami bisa meng-apply ke berbagai pre-college yang menerima IGCSE certificate, di mana salah satunya ada di Singapore. Dengan ini, masa SMA hanya berlaku 1.5 tahun!). Kegiatan ini rutin, setidaknya yang gue tahu dari tahun lalu. Dan yang jadi perbedaan di sini, gak cuma anak Inter aja yg ikut, tapi anak SBI dan aksel juga ditawarkan. Awalnya gue cukup senang, karena siapa tau Bau (nama disamarkan) bisa ikut. Tapi ternyata...tidak :( Ah sudahlah. Sepertinya kalian akan bosan kalau gue uraikan lagi tentang si Bau itu.

EduTour dimulai tanggal 30 November mendatang, dan karena bertepatan dengan sumatif, makanya sumatif pelajaran MIPA Cambridge (Biology, Physics, Chemistry, Trio Math-Statistics, Pure Math, Mechanics) dilakukan di minggu ini. Doakan saya yaaa! (Takeshi Castle Mode: ON) Dan kami baru pulang sekitar tanggal 4-jadi kami ber-EduTour selama 5 hari. Dan sepulangnya dari sana, kami akan melanjutkan perjuangan ber-sumatif dengan pelajaran" yang tersisa, seperti Seni Rupa, Agama, dll.

I really can't wait till November the 30!

31 October 2009

pelabuhan kelayapan tengah malam

Waaah udah 2 minggu-an gak blogging, parah abis. Salahkan makanan basi-mereka yg bikin gue tepar di satu setengah hair pertama TeSIS dan hari Senin abis TeSIS. Banyak banget yg terjadi selama gue vakum dari dunia gaib per-blog-an.

Ah iya sebelum gue lupa, selamat dan sukses atas terpilihnya Citra Loveintha sebagai kepala suku PMR 27! Semoga anda bisa membimbing kami-the rebellions- (lo aja kali din) ke tempat peristirahatan terakhir yg sebenarbenarnya tempat (ini apa pula -_-). Daaaaan maaf gue gak bisa jadi sekretaris :( FYI, tadinya gue jadi sekretaris PMR, tapi karena gue waktu itu jadi cakaput (calon ketua keputrian), jadinya gue gak bisa jadi DPH PMR deeeeh. Akhirnya gue jadi ketua donor darah deh.

Dan hasil pemilihan cakaput, as I expected before, ketua keputriannya adalaaaah....Gue ceritain dulu presentasinya! Jadi presentasinya kan hari Sabtu, dan hari Jum'atnya gue ada di rumah yg di Depok ituloh yg jauh di ujung dunia. Dan gak ada komputer. Dan gue belom ngerjain presentasinya. Great! Gue baru ngerjain presentasinya pagipagi di apartemen. Trus kan gue ke sekolah, dan ternyata gak bisa presentasi di sekolah, jadinya presentasi di rumah Kak Fitri, di daerah Bidakara situ. Nungguin yg lain, akhirnya semua kumpul dan naik angkot carteran ke TKP. Berasa emak-emak mau ke pengajian, satu angkot kerudungan semua.

Nah udah sampe nih. Presentasi di mulai, Dini duluan yg ditunjuk kak Intan. Gina lagi diwawancara, dan gue dipingit di salah satu kamar (kayaknya sih punya kak Fitri) dan ngafalin presentasi yg baru dibuat tadi pagi. Dan dingiiin banget sampe" gue tidur -_- Cepek deh. Dan presentasinya itu katanya sih setengah jam, tapi pas gue liat jam, udah satu setengah jam GILAK. Diserang habis"an! Gimana gueeeee. Akhirnya Dini balik, dan ishoma, baru gue presentasi. Beneran, yg namanya presentasi gue ancur bubur. Udah ngomongnya gajelas, cepet banget (maklum, anak visual), pake acara lawak"an lagi. Gatot dah pokoknya (ampun pak gatot, bukan anda yg saya kamsud!) Abis itu tanya jawab, eeeeh di skip gara" udah siang, dan Gina belum presentasi. Alhasil, gue dianggurin lagi Tapi akhirnya sesi tanya jawab dilanjutin tanpa adanya manusia" yg katanya r*****l. Wahaha gak nyebut merek ah. Pas pada nanya, ada kakak 44nya yg jawab, jadi yg mestinya gue yg ditanya, malah kakaknya. FAILED. Untungnya OOT gak kelamaan, dan setelah tanya-tanya, akhirnya sharing" ttg presentasi n pengumuman kaput tahun lalu.. yg lagi-lagi failed parah. Yah pokoknya abis itu pulang dan gue dapet kabar kalo ketua TX baru telah terpilih, yaitu Hanif Satyo Prabowo! Wiiiw selamat ya.

Ah, gak jadi-jadi kan gue ceritain siapa kaputnya. Kaputnya adalah.. Gina Mariana Silvana! Selamat selamat! Dan as you can expected, gue jadi sekretaris-secara sukarela dan terpilih. I wonder how can I love this job, since junior high. Sayapun berpartner dengan Aulia Rahmantut pabrik H2S hahaha canda man. Yah pokoknya partner saya ikhwan, pastinya, dan sekelas dengan saya. Ufufufufu

Daaaaan sudah terpilih ketua PO, PK, dan subsi-subsi!
Ketua PO: Ina
Ketua PK: Dihap
Ketua Rohis: Jola
Ketua Rokris: Daniel
Ketua Rokat: Albert
Ketua Siera: Faris
Ketua Puapala: Luther
Ketua Pramuka: Pras
Ketua Kemas: Diana
Ketua Mesis: Hafizh
Ketua Teksound: Hanif
Ketua SP: Hanifi (bukan kembaran yg di atas)
Ketua Kopsis: Fina
Ketua OR: Ryan
Ketua PMR: Citra
Ketua Art: Eja

Selamat bekerja semuanya!

Intermezzo, gue lagi suka lagu ini:

Ecoutez-Maafkan (Tak Sempurna)

saat kau katakan apa yang kau rasa dalam hatimu padaku
dan kujawab rasa cintamu yang dalam dengan senyuman di bibirku
semua indah, serasa dalam mimpi
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
dan hari pun silih berganti menguji cintaku kepadamu
tlah kuberi semua rasa cinta serta hatiku padamu
namun kau slalu menuntutku lebih
hingga ku tak tahu harus apa lagi

reff:
maafkan aku yang tak sempurna
sampai kapan pun itu aku tetap begini
ku hanya ingin tuk selalu menjadi
yang terbaik untukmu

huuuu, tak sempurna, tak sempurna
huuuu, tak sempurna, tak sempurna

seandainya ku dapat menjadi seorang seperti yang kau inginkan
hingga tak tergantikan cintaku dengan cinta yang lainnya
karena kau slalu menuntutku lebih
sampai ku tak tahu harus apa lagi

repeat reff

tak sempurna, tak sempurna, nanananananana
oooooh, tak sempurna, tak sempurna
dididididadadadida, tak sempurna, tak sempurna
dududududududu, tak sempurna, tak sempurna

repeat reff [2x]

tak sempurna, tak sempurna
tak sempurna, tak sempurna

*****

Ah, saya suka sekali accousticies!

Wah, sudah malam. Mungkin nanti, di hari berikutnya, di minggu berikutnya, bulan, tahun, kita akan bertemu lagi sayang saya akan membahas gosip-gosip terbaru di sekitar saya. Jangan kemana mana!

13 October 2009

Sayonara midtest, hello remedials!

Tadi hari terakhir midtest, dan midtestnya Biologi, my weakest lessons -____- Udahlah, terlalu banyak remed. Ayo kita mulai berhitung! Yang udah keluar nilainya baru Chemistry paper 3 daaan Mechanics. Dan kesemuanya gatot (bukan pak Gatot, tapi gagal total -___-). Chemistry nilainya kepala 6, sedangkan Mechanics setengahnya. K-A-C-A-U. Gue gak bisa memprediksi yg lain, karena tau pasti bakal jelek

Oke, ayo kita beralih ke topik yg kurang menyetresskan. Besok, di 8 bakal ada Seminar Pendidikan dan.. PEKAN BUDAYA! Dan seperti yg ditulis sebelumnya, gue mengkoordinir bahasa Arab, dan sebagai koordinator a.k.a PJ, gue gak begitu ditumbalin, tapi ada yg ditumbalin. Maaf yaaa. Mana gue baru aktifnya abis liburan, padahal rencana acaranya udah dari liburan zz. PARAH. Koor macam apa gue. Akhirnya tadi bener-bener SKS :( Jadi ngerasa bersalah sama semuanya.

2 hari lagi TeSIS! Yeaaay I really wait for it! Ada YDKW ufufufufu.
OH IYA BASIS! Gue juga ngurusin BASIS loooh soalnya ini proker 3 subsi-Kemas, Pramuka, PMR. Dan gue anak PMR (terus?). Dan gue gabuuuut lagi. Sebalnya.

Dan karena TeSIS, jadi beberapa hari kedepan gue gak bakal posting, dan bisa jadi di postingan berikutnya, gue bakal ganti layout *mending ada yg baca*. I found something interesting :D Ehehehe

10 October 2009

Blogging from Flock ternyata menyebalkan!

Gue sebeeeeel sama blogging from Flock. Padahal udah nulis disitu, tapi gabisa ke-publish. Sedihnya :( #curcol

Sekarang, jamannya lagi MIDTEST. Parah, padahal hari Senin ada 3 jam ujian dengan 2 mata pelajaran. Hmm kok bisa? Jadi, kan hari Senin ada 2 pelajaran-TIK dan Fisika. Fisikanya ituuu dibagi jadi dua paper-paper 1 (PG) dan paper 2 (isian). Jadinya pulang jam setengah 12 deh . Besoknya HARI TERAKHIR yeaaay cuma ada biology 2 paper. Ya Allaaaaah gue sama sekali gak ngerti biologi jelasin apaaaa. Gurunya ngomong dan gak ngasih catetan, padahal gue bukan anak audio (bukan audio TX ya :D) tapi visuaaaal. Parah parah biologi.

Besoknya ada sehari gap, gak jelas ngapain. Libur tidak.. tahu. Masukpun...tidak tahu juga ^^;. Tapi kayaknya hari itu harus kerja rodi ngurusin Pekan Budaya tanggal 14-15nya. Dan sebagai koordinator Arab yg gabut dan hobi madol, gue menyerahkan (mungkin) cukup banyak kerjaan ke anak kelas X-nya, karenaaa anak kelas XI-nya cuma 4 orang-gue, Putri, Khonsa, Fina. Tanggal 15nya, kita berempat pada TeSIS lagi.

TeSIS bakal diadain tanggal 15-17, barengan sama bonyok gue yg ke Bali...sampe tanggal 18! Hurraah! *OOT* Jadi, TeSIS itu tulisannya emang kayak gini, bukan tulisan 4Laii1Y 6ah03Lzzz hahaha. Temu Sosial Ilmiah Smandel, itu kepanjangannya. Jadi, angkatan 2011 dibagi jadi 44 kelompok dari semua kelas-Reguler, Aksel, Inter. Gue dapet kelompok 35 yg berisi anak Science B absen 1 sampe 9, which means ada AlexNindaRahmanDanaDinaDindaDivaEmilBibir. Lumayan lah, ada satu clown, satu gabuterszzzz (gue) dan sisanya anak-anak rajin . I felt sorry to Khalda. She really wants to exchange her group, but she can't. Berjuang yaaa dengan apa yg ada + Michael WAHAHA. Minggu depannya, gosip"nya bakal ada presentasi CaKa dan CaKaPut Rohis. Doain yaaa :)

Iseng-iseng gue ikut personality test dari sini nih. Dan hasilnya:

iPersonic Personality Color Pelaku Santai

Tipe Pelaku Santai adalah orang-orang yang ramah dan bahagia. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain. Cerdas, pandai bicara, jenaka dan penuh pesona, mereka suka menjadi pusat perhatian. Mereka tidak suka sendiri. Semangat hidup mereka membuat orang lain merasa nyaman ditemani mereka dan membuat mereka cepat mengenal orang lain. Tipe Pelaku Santai menikmati saat-saat terbaik dari tiap kesempatan – banyak orang tipe ini berbakat membuat seluruh hidup mereka bagaikan suatu pesta besar. Kebosanan tidak akan terjadi jika ada mereka karena mereka sangat pandai menghanyutkan orang lain dengan antusiasme, suasana hati riang, dan optimisme mereka.

Pemikiran abstrak dan filosofis mendalam mengenai arti kehidupan tidak terlalu menarik minat tipe Pelaku Santai. Mereka pragmatis, realistis, dan benar-benar hidup dalam kekinian. Dalam bekerja mereka juga lebih suka jika semuanya sudah siap sehingga mereka bisa menjalankan tekad mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak masalah bagi mereka menangani beberapa tugas sekaligus dan mereka justru gemilang di saat genting! Kegiatan dari beragam bidang dengan banyak kontak sosial sangat tepat bagi mereka. Orang juga jarang menemukan mereka berdiam diri saat waktu senggang; karena sifat mereka yang terbuka dan penuh rasa ingin tahu, kebanyakan dari mereka memiliki banyak hobi dan minat. Mereka tidak takut akan hal-hal yang belum mereka ketahui: karena mereka luwes dan kreatif, dengan cepat mereka menyesuaikan diri dengan situasi-situasi baru dan memanfaatkannya dengan baik. Kadang-kadang mereka terlibat konflik dengan peraturan atau hirarki yang ketat, yang langsung membuat mereka merasa terpasung hingga berontak terhadapnya.

Sebagai teman, tipe Pelaku Santai adalah orang-orang murah hati dan gemar menolong yang sangat mementingkan hubungan harmonis dan suasana yang mendukung. Sikap mudah bergaul mereka membuat mereka memiliki lingkaran besar pertemanan dan mereka suka jika rumah mereka dipenuhi beragam tipe tamu. Dengan senang hati mereka melarutkan diri pada suasana hati dan minat mereka yang spontan ke dalam satu atau dua hal penting saja. Ini membuat mereka kelihatan agak tidak bisa ditebak bagi mereka yang memiliki sifat lebih pendiam. Saat sungguh-sungguh penting, Anda bisa mengandalkan mereka seratus persen. Sebagai pasangan, mereka kreatif, bergerak cepat, dan imajinatif – asalkan pasangan mereka tahu bagaimana membuat mereka terpesona. Mereka nyaris tidak bisa tahan dengan kebosanan atau rutinitas dalam suatu hubungan. Mereka sama sekali tidak menyukai konflik; jika sebuah hubungan jadi membutuhkan terlalu banyak ketahanan atau upaya, mereka cenderung menarik diri dari hubungan tersebut dan mulai mencari pasangan baru. Namun demikian, jika Anda berhasil terus menyalakan rasa ingin tahu mereka dalam jangka panjang dan memberi mereka kejutan dari waktu ke waktu, Anda akan mendapatkan pasangan yang setia dan penuh cinta.

Sifat-sifat yang menggambarkan tipe ini: ekstrovert, praktis, emosional, spontan, antusias, ramah, senang bercanda, riang, suka bicara, santai, toleran, bahagia, menyenangkan, murah hati, luwes, lihai, menarik, berorientasi pada hubungan, gemar berpetualang, menyukai keriaan, kreatif, suka menolong, menyukai tindakan, tidak kaku, mudah bergaul, terbuka, peka, mudah tersinggung, tidak mudah ditebak, penuh rasa ingin tahu, angin-anginan.

..menurut kalian, bener gak?

16 September 2009

my interest.. and how to fulfil it

Hey-ho all!
Akhirnya setelah penantian yg begitu lama... 8 libur juga! hahaha lebay. Soalnya, bayangkan apa yg bakal terjadi kalo lo:

1. dari jam 6.30 - 15.00. Untungnya kalo puasa cuma sampe jam 12.00. Oh iya, apalagi jadwal kelas gue MAKNYUSS banget. 12 jam pelajaran masing-masing buat Chemistry, Biology, and Physics. Well, ujung-ujungnya molor di kelas :D

2. Sendirian, begitu lo sampe rumah. Dan gak boleh kemana-mana. Dan jauh juga dari mana-mana. And I have to do all the house chores. Kali ini gue ngerti perasaan suami yg ditinggal istri.. Masak, masak sendiri. Nyuci, nyuci sendiri..

Pokoknya kehidupan rumah adalah kehidupan suraaaam.. That's why I glad to stay longer at school.. Sabtu-Minggu kalo ada orang di sekolah, kayak malam Minggu kemarin gue ikut I'tikaf di sekolah. Walaupun gak banyak pesertanya, tapi membuat suasana i'tikaf yang ideal. Walhasil, gue cukup berhasil muroja'ah 4 surat juz 29

Beberapa scene dalam I'tikaf di Malam Minggu bersama Rohis (MAMI BARIS) -maaf ya ikhwan semua, soalnya akhwat yg bawa kamera cuma anak 2012-:


Idealnya, kalo i'tikaf itu..
tilawah al-Qur'an, khatamin

istirahat, kalo capek

tempat shalat tarawihnya akhwat.. saking sedikitnya jama'ah ikhwan

sahur.. kalo udah waktunya
TAPI, malah..

main

BONUS! Keajaiban bulan Ramadhan..

al-Qur'an melayang

pembuktiannya

lihat polanya!

(thanks to Hanif Satyo Prabowo for the picts)


Karena sudah libur, biasanya pada mudik, atau kemana kek. Yang gak punya kampung dan gak mudik kayak gue, liburannya TETEP DI RUMAH. Sungguh membetekan. Untungnya, adek gue pulang dari perantauannya di Anyer :D

Selain itu, ada juga bukpus-bukpus yg dilaksanakan beberapa hari setelah hari sekolah terakhir, karena diperkirakan pada belom mudik. Contohnya, bukpus LKS hari Minggu kemaren, tanggal 14 September 2009 di rumah Sandi. (mungkin) Seperti yang kalian duga, gue gak dibolehin :'( dan lagi-lagi gue ditipu mentah-mentah. Selain itu, ada juga bukpus-maker PMR yg sangat out of rundown paraah, yg dateng lumayan dikit, tapi menyisakan banyak makanan! enak! :p Akhirnyaaa gak ada utang lagi

Memang dasar anak yg jarang libur, setiap liburan selalu bingung mau ngapain. Soalnya kalo gak di-plan, pasti ujung-ujungnya laptop ckck. Gue pengen melakukan hal-hal yg berguna di liburan ini, seperti:

1. Belajar, dan praktekkan!
Pengen punya duit sendiri, tapi gak bisa kerja? Main option (salah satu) solusinya! Gue pengen nabung buat beli 'kado ulangtahun' gue. Dari gue, untuk gue. Daripada lumutan nunggu dikasih, mendingan cari duit sendiri. Ya kan?

2. Mengobrak-abrik sotosop
Tiga tahun terasingkan di hutan membuat gue lack of non-academic ability kayak main-main sama sotosop, atau bongkar PC :'( Ini udah nunggak bertahun-tahun

3. Mending nambah lagi sambil ngulang yg udah bisa, atau nambah aja? Intinya belajar foreign language. Titik.
This quote expresses my condition -and my abilities- very well. I'm not a good talker nor a good writer. How can I stay alive in this globalisation era if I only have one language to be mastered? Nanti gue tewas ditelan massa zz. Pengen ngelanjutin Norway. Pengen ngebagusin English. Pengen ngelanjutin Arab. Pengen ngelanjutin Jepang. Pengen nambah Prancis, Jerman, Hebrew, dll. Tapi syaratnya cuma satu-gak boleh les. Mesti otodidak. Agus Salim aja bisa, masa kita gak?

4. Browsing scholarship

Akhirnya, gue memutuskan pengen jadi insinyur OR arsitek. Pengen ambil teknik mesin di Jerman atau Jepang, OR landscape architecture di Prancis. Maka dari itu, gue pengen belajar banyak bahasa asing biar ke mana-mana gampang.. Kalo gak dapet, pengen di SSN (Sekolah Sandi Negara) juga boleh. Jadi Robert Langdon versi cewek Indo hahaha.


Dan liburan lebaran ini berakhir tanggal 30 September, dan masuk tanggal 1 Oktober, which is hari KAMIS. Guna banget belajar 2 hari sebelum midtest tanggal 5-nya doakan yaa semuaa :)

05 September 2009

di-atas-tanggal (baca: update)

Sudah lama tidak mengepoooost~
Memang hidup saya (bisa jadi) tidak menarik, tapi setiap kehidupan orang berbeda kan? No one will occur the same series of moments, then it encourages me to keep writing until now..

Oh iya sekarang kan udah Ramadhan. Entah kenapa sepertinya resolusi Ramadhan gue agak macet. Mungkin gara-gara enam hari awal Ramadhan, gue gak puasa. You know lah, girls stuffs. Bener sih, katanya setan dibelenggu di bulan Ramadhan. Tapiiii guenya masih males :( AYO DEENZ! Emang bener kata suatu-quiz-yg-pernah-gue-mainin-di-FB, it's uneasy to motivate myself :( So, does anyone can motivate me?

Beberapa waktu yg lalu, gue ikut TPP (Tes Penyelesaian Pelajaran) Kumon level L, setara tingkat SMA. Dan hasilnya... failed. Gue kelompok 4, which is gue failed. Waktu ngerjain gue cepet, 15 menit dari maksimal 50 menit untuk 14 soal. Daaaan, tiga dari 14 soal itu tentang maksimum minimum biadaaaab. Entah kenapa gue gak suka dan gak ngerti dari dulu. Walhasil, gue ngerjain 11 soal kan. Tapi ternyata yg bener cuma tiga atau empat gitu. Akhirnya, retake deh. Oh iya, sebelumnya ada semacem perbaikan tes, jadi kita dikasih liat jawaban orang lain yg bener. Gue liat jawaban anak kelas 6 SD yg dia juga kelompok 4, tapi gara" waktunya kelamaan -___- Padahal jawabannya bener setengahnya. GILAK. Harusnya umur segitu gue udah ngerjain TPP level L juga. Tapi.. you know lah. Gue boarding 3 tahun, neglecting all those Kumon thingies. Jadinya berhenti bentar gara" UN, dilanjutin lagi pas SMA. Telat banget ya? Coba kalo diitung-itung, harusnya sekarang gue udah jadi completers (orang" yg udah namatin Kumon), atau minimal udah ngerjain level P atau Q. (note: Dulu, kalo namatin Kumon harus sampai level Q. Tapi entah-sejak-kapan, sekarang diturunin jadi level O, tapi ada level tambahan, yaitu level X)

Apalagi yaa yg menarik? 1 September kemaren, diumumin 16 BESAR CALON KETUA PENGURUS OSIS. Nama-namanya liat aja di blog Nisa yg ini nih. Komen gue? Sasugaa~ Semoga bisa membawa PO ke depannya ya :) Tunjukkan cermin angkatan 2011 yang sesungguhnya!

Udah gitu, gue kepilih sebagai cakaput Rohis 45. Reaksi gue... kaget! Soalnya kan masih banyak yg lebih baik dan berkontribusi.. Saya hanyalah seorang sekretaris gabut :( Semoga dengan ini, gue bisa lebih memperbaiki diri gue dan bisa bertindak selayaknya seorang akhwat sejati.

Pagi ini, gue baru balik dari acara BukPus Rohis 45, Mabit, dan Sahur on the Road. I experienced a very crowded Friday!

Jadi awalnya, hari Jum'at itu ada serangkaian BukPus Rohis dan BukPus sekolah. Awalnya, gue gak mau ikut bukpus sekolah, demi bukpus Rohis. Tapi, tiba" pas pelajaran, Pak Soleh masuk kelas, dan menekankan bahwa bukpus sekolah itu wajib! Wong cuma sekali dalam sebulan kok. Akhirnya dengan agak berat hati, gue bayar buat konsum bukpus sekolah. Tapi, gue berencana, jadi siangnya gue ke rumah Irfan (tempat diselenggarakannya bukpus Rohis), dan jam 4an gue balik ke sekolah buat ngelaksanain bukpus sekolah. Kalau memungkinkan, setor muka aja, terus
cabut lagi.

Ada kendala! Anak-anak pada bingung mau dateng ke sekolah ato gak. Akhirnya karena info dari Pras yg lagi di sekolah, bahwa Pak Soleh marah-marah, cuma anak Inter, yaitu gue, Khalda, Irfan, Naufal, dan Ardi aja yang ke sekolah. Pada saat itu juga, gue langsung telpon taksi, dan berangkat dari rumah Irfan jam 6 kurang 20 menit. And you can guess, kita buka di jalan. Dan taukah kalian, sampai jam berapa kita sampai di sekolah? JAM 7 KURANG 15. Beuh, mantep banget. Akhirnya ke kelas, absen, ambil makan-minum, balik ke depan tempat wudhu ikhwan buat nunggu yang lain. Ada Rahman, Khalda, Hanif, Rendra, kak Al, Emir, dll pokoknya banyakan deh. Tapi, kita mau berangkat pake mobilnya Rahman dan April, dan Irfan-Ardi-Naufal belom balik! Akhirnya gue balik ke kelas, take some shots (hehehe maaf yaa gerombolan-depan-ruang-wudhu :( ), ajakin Irfan-Ardi-Naufal ke tempat ngumpul, dan akhirnya berangkat pake mobilnya Rahman. FYI, gue semobil sama Noni, Khalda, Naufal, kak Baim, Ardi, kak Al, Emir, sama Rahman. Dan kak Baim meninggalkan kak Al menjadi 2010 sendiri di mobil itu dengan turun di tengah jalan zz. Tapi kak Al akhirnya meninggalkan rumah Irfan bareng Ardi.

Berangkat dari sekolah aja jam 7.15 malam, dan baru sampai jam 9 kurang-an :( Capek deeeeh. Abis itu sholat Isya, Tarawih, makan", baru sharing dengan tema yg sama waktu rihlah. Dengan berbekal tidur 20 menit-an, baru kami berangkat ke Kebun Sirih buat ngumpul Sahur on the Road. Dan lagi-lagi, kurangnya transport menyebabkan kita mesti pesen taksi lagi buat ke Kebon Sirih.

Sesampainya di Kebun Sirih, ada briefing sebentar sama ibunya Aya, pembagian transport, baru kita cabut ke Marunda. Sepanjang jalan kenangan jalan ke Marunda (lokasi Sahur on the Road), gue tiduuur aja. Abis, capek sih! Di Marunda, kita dengerin ceramah, sama sholat Subuh. OH IYA, MASUK TV LOOOH JAK TV. Yg tadi pagi nonton, you're the very lucky one! hehehe. Abis itu balik lagi ke Kebun Sirih, dan balik lagi ke 8. Sehingga sampai sekarang, gue SENDIRIAN masih ada di tempat sholat akhwat, lantai dua Masjid Darul Irfan, SMAN 8 Jakarta. Beteeee :(

Sekarang, di bawah lagi ada bazaar kejujurannya anak subsi Kemas (Kemasyarakatan). Rameee banget kayak Pasar Sabtu yang tiap pagi bikin Bukitduri Tanjakan macet -____-; hahaha. Murah-murah, baju, dress, dll cuma seharga 2000 - 5000 rupiah saja! Tentunya untuk warga sekitar 8 doong. Sama ada paket sembako murah, 5000 sepaket. Berminat? Jadilah warga sekitar SMAN 8 Jakarta ahahaha. Cukup sekian, arrive denci!

23 August 2009

Ayoo rapelnya rapelnyaa *itu mah apel :D*

BOSEN!
Pasti kalian mikir gitu. Iya kan? *sok tau* Gara-gara gak update, udah gitu sekalinya ada update, pasti isinya cuma notes-notes kayak yg di bawah ini. Memang blog ini udah nyaris gak layak baca -____- Maaf yaa saya memang suka menunda pekerjaan, tapi ujung-ujungnya males ngerjain karena pekerjaan udah NUMPUK semua, ckckck.

Oke, karena gak banyak PR dan gak ada ulangan besok, mari kita rapel perjalanan gue beberapa hari yang lalu!

Sabtu-Ahad, 1-2 Agustus 2009 : CAIRO (Camping Islami Rohis)
Sebel! Gue gak bisa ikut gara-gara suratnya baru dikasih H-1. Untung sebelumnya gue ikut forum LKS dulu, jadi bisa ketemu kak Baim dan dikasih suratnya. Tapi gara-gara itulah gue gak diizinin -____- Gue ngambek semaleman, pengen nangis, udahlah nangis dalem hati aja. Besoknya ada Technical Meeting First 8 Kit (baca dua post sebelumnya), tapi itu gak crucial banget kalo gue tinggalin. Minggunya sih, ada acara 50 tahun pernikahan eyang gue. Tapi.. kan bisa nyusuuuul :( Pokoknya gue masih nyesel gak ikut CAIRO. Awas aja ada yg masih main api :p

Ahad, 9 Agustus 2009 : First 8 Kit, Rihlah ROHIS LKS - PK @ Ragunan
Baca postingan ini

Sabtu, 15 Agustus 2009 : Exhibiton and Promotion 2009 (EXPO 2009) by LKS 2009
Expo itu CUMA ADA DI 8 LOOOOH. hehehe. Expo adalaaah ajang untuk mempromosikan 14 subsi + 3 ekskul resmi (Japan Club, Beavers, Student Debate Club). Expo itu.. sebenernya prokernya PO (Pengurus OSIS) 44 yang ngejabat sekarang. Tapi sebagai bentuk latihan, dan LKS 2009 adalah calon-calon 'petinggi' subsi maupun PO, jadi LKS 2009 mengurus semua hal yg berkaitan dengan EXPO. Karena gue ikut dua subsi, yakni PMR dan Rohis, gue turut mengurus kegiatan EXPO di kedua subsi tersebut. Dua aja udah lumayan berat. Apalagi pas dibagiin panitianya, dan gue jadi ANGGOTA KOORDINATOR JC. Sebenernya tugasnya gak berat-berat banget, gak seberat koordinator ataupun BPH lainnya. Tapi.. ngurus tiga stand EXPO? ckck.

Paginya gue ikut briefing bla bla, trus gue baru nyadar.. ANAK LKS SEMUA PAKE BAJU ANGKATAN! OMG gue mesti balik, tapi gue juga mesti bantuin anak JC, PMR, sama ROHIS! Mana gue mesti dokumentasiin performance Wushu yg bakal perform bentar lagi! Gue panik banget, tapi gue akhirnya gak bantuin JC dan Rohis, langsung cabut ke apartemen gue buat ganti baju, bawa pin LKS dll. Pas balik ke sekolah.. Wushu udah mulai! Gue lari" gara" dokumentasiinnya pake kameranya April, tapi ada connection problem antara bodi kamera sama lensanya. Daaan, gak jadi dokumentasiin *phew*. Langsung gue cabut ke PMR.

Di PMR, gue ikut sekitar 9 kelompok-an lah. Oh iya, konsep dekor PMR paling hemat dan memenuhi kaidah estetika looh :) *gaya*. Soalnya tinggal nempel mading sama poster + gantungin kaos hasil lomba First 8 Kit kemaren. Yang juara lagi HAHAHA. Di situ, gue jadi PJ games, ngajakin 2012nya ice-breaking. Karena orangnya banyak (2012nya 30 orang-an) dan anak PMRnya dikit (gak nyampe 15 deh kayaknya), walhasil gue agak teriak, sampe gue haus bangeeet. Game ice-breakingnya gue pake games yg pernah dimainin pas lagi pelatihan di Jombang, hahaha.

Gue ke ROHIS pas istirahat, di mana gak ada kelompok yg masuk, sambil sebelumnya beli makan-minum dulu (dan lupa kalo pagi itu gue bawa bekal. BODOH). Di Rohis itu komunikasinya lebih intens dan lebih interaktif. Jadi pertamanya dipisah ikhwan-akhwat (iyalah), perkenalan kakak" Rohis, abis itu muterin film Rohis yang SUMPAH JAYUS BANGET GAK BOONG. Filmnya dibuat sama Hanif, dengan dubber yang kocak dan agak jayus, dan hasilnya film yg teramat jayus. Intinya, filmnya jayus parah titik. Abis nonton, ada quiz gitu tentang filmnya, dan dilanjutkan dengan diskusi intens buat tanya-jawab tentang Rohis per kelompok. Terakhirnya, kita sama-sama takbir. ALLAHU AKBAR!

Setelah terakhir di Rohis, katanya kan ada rapat eval yg diawasi PO 44. Tapi ternyata... ada kejutan yang lainnya! Setelah kami ber'jihad', akhirnya diputuskanlah bahwa dari 103 orang yang mendaftar, 78 orang yang diterima sebagai CAPER LKS 2009, dan pada akhirnya luluslah 73 orang EX-LKS 2009 (5 orang gak lulus). Huaaaah ternyata perjuangan kali ini tidak sia-sia. Maaf kalo gue kurang berkontribusi #ngomongsendiri *haduh, ini blogger ato twitter??*. Bener kata kak Delia, keputusan untuk mengikuti LKS merupakan salah satu keputusan terbenar dalam hidup saya. I REALLY REALLY LOVE YOU ALL MY EX-LKS 2009 <3>.< Semangat yaa yg masih melanjutkan perjuangan ke 32 besar. My pray will always be there
for you :)

Ahad, 16 Agustus 2009: Pesantren Kilat (dulu namanya SIDI ROM)
TAPI GUE GAK IKUT PADAHAL GUE PANITIA (gue nulisnya gak nyantai). Padahal gue udah bilang pengen nyusul, tapi emang gak jodoh, jadi gak bisa -____-. Gue ngincer bolos hari Selasanya tuh hahaha. Kan Senin yang ikut upacara cuma perwakilan.. Intinya, dua hari libur ini gue bengong seharian -___- Oh iya gue tadinya kan gak boleh ikut, tapi gue paksa-paksa bokap gue. TAPI TERNYATA DIA PUNYA CARA LAIN! YANG LEBIH LICIK DAN CULAS! (gak nyantai lagi) Jadi, panitia+peserta SanLat berangkat hari Minggu. NAH Malam Minggunya, bokap gue ngajak ke Bogor dengan dalih mau tahajud bareng. Aduuuh gue gak usah ikut gak papa kan? Sebeeeel zz.

Sabtu, 22 Agustus 2009 : Dauroh Rohis, Ulang Tahun Irfan
Dauroh adalaaaah semacam cairan berwarna merah yang bergerak di dalam tubuh sesuai denyut jantung. Memiliki jalurnya tersendiri yang disebut pembuluh. Kalo ada tangan yang terbeset pisau, korbanpun akan berteriak, "AKU BERDAUROH!" (taken from Sesat Dictionary by Dina Rahmatika).

Bukan itu! Dauroh itu pembekalan materi. Misalnya kayak waktu mau TPA-DPA, ada alumni Rohis yg datang buat ngasih saran-saran gimana baiknya waktu DPA-TPA itu gini gini loh dek.. bla bla bla. Pokoknya dauroh itu sangat bermanfaat sekali, dan I won't miss any dauroh! Nah dauroh sekarang ngomongin dakwah islamiyah, sama proker-proker Rohis selama Ramadhan. Ada Sahur on the Road bareng ZISWAF, NASYIR (Nasyid On Air), MAMI BARIS (Malem Minggu bareng Rohis), huaaah namanya aneh-aneh -___- dasar ikhwan. Oh iya, sebelumnya kan usulin dulu, proker" yang mau dilaksanakan selama 2 minggu sekolah ini apa aja. Eeeeh, yang ikhwan ada yg ngusulin TAKBIRAN BARENG! hahaha lawak abis.

Oh iya hari itu kan hari pertama puasa, dan pas sama ultahnya Muhammad Irfan Perdana, mantan ketua kelas X Inter A hahaha *apacoba*. Jadi kita mau bikin surprise gitu, film anak" yang ngucapin "Happy Birthday" ke dia. Gue gak ikut, lagi lagi dengan dalih 'buka puasa pertama harus ada di rumah'. ckckck. Rasanya aku ingin segera bermain option dan punya penghasilan tanpa harus bekerja ckck.


Sudaaah sepertinya itu saja yang perlu saya laporkan. Oh iya nanti ada kejadian" aneh yang bakal gue post di posting selanjutnya, insyallah. Dadaaaah! (jangan piktor!)