Showing posts with label hati. Show all posts
Showing posts with label hati. Show all posts

29 March 2011

P.A.C.A.R.A.N, nggak atau iya? :p

Suatu pagi, belasan menit sebelum bel masuk berbunyi di SMA-ku, seorang teman melontarkan pertanyaan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya,

“Fah, lo mau gue cariin pacar, gak?”

Hah? Dengan muka bingung, lantas berganti nyengir aku menjawab,
“Gak usah, Lin, nih aku dah punya banyak,” seruku sambil menarik buku-buku semi tebal dari dalam tas.

Gantian temanku yang cengengesan. Dasar.

Kali lain, teman seperjalanan pulangku bertanya, “Fah, kenapa sih kamu gak mau pacaran?”

Sambil berusaha menghindari genangan air di depan pasar Pondok Labu, aku berseru pelan,

“Kenapa ya, Sri?”

“Yee, orang nanya balik nanya.”

So?

Ini prinsipku, Sri. Tahu kan, kalau Allah sudah menjanjikan dalam Al Qur’an, perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik. Sepanjang kehidupanku, aku percaya janji Allah selalu benar.

Gini lho, kalau misalkan orang yang kita sayang menjanjikan sesuatu pada kita, kita akan dengan senang hati percaya, kan. Karena ibu, ayah, atau siapapun yang menyayangi kita akan berusaha menepati janji itu untuk membahagiakan kita. Kalaupun mereka tidak bisa menepatinya, mereka yang akan pertama kali bersedih karena keterbatasannya. Kalau manusia saja begitu, Allah pasti gak akan pernah menyalahi janji-Nya, karena Ia adalah Dzat yang paling mencintai kita, dan Ia adalah Penguasa Mutlak Alam Raya ini, Ia akan selalu memberi tanpa batas, tak ada yang bisa membatasi kekuasaan-Nya. Kalau Ia sudah berjanji, maka itu adalah sebenar-benarnya janji.

Perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, berarti Allah sudah memudahkan kita, kan? Kalau mau dapat pasangan yang baik, berarti yang harus kita lakukan adalah menjadi baik terlebih dahulu. Kalau misalkan mau dapat pasangan yang hafal Qur’an, misalnya, kita juga harus mulai menghafal Qur’an. Atau kalau mau dapat pasangan yang pengertian, kita juga harus mulai menjadi orang yang pengertian. Karena saat seseorang menetapkan standar pada dirinya, hal itu akan mempengaruhi pilihan-pilihannya di saat ia harus memutuskan sesuatu. Iya, kan?

Makanya, aku lebih memilih membenahi diriku dulu, membangun kualitas-kualitas yang kusukai, jadi nanti pas memang sudah waktunya, aku sudah lebih siap. Lagian kalau pacaran, kita jadi kehilangan waktu untuk membangun hal-hal itu, kan? Kita lebih banyak tersibukkan dengan hal-hal yang sekarang, mungkin iya kadang-kadang ada yang memikirkan untuk ke depannya, tapi itu juga gak menjamin. Banyak orang yang tidak menjadi dirinya saat menjadi seorang pacar. Ia berusaha terlihat sempurna, atau paling tidak ia hanya ingin sisi baiknya saja yang terlihat. Kalau gak, siapa coba yang mau jadi pacarnya, hehe. Tapi kalau menikah kan beda, saat kita menikahi seseorang, kita gak bisa memilih hanya menikahi sisi baiknya, harus sepaket sama sifat-sifatnya yang lain. Lho, jadi jauh gini ya ngomongnya, hehe.
Jadi, menurutku, kalau orang lain berdalih, “Saya pacaran untuk bisa lebih mengenal pasangan saya,” rasanya itu bukan jalan yang pas.

Lagipula, aku gak mau mencari sesuatu yang baik untukku dengan cara yang tidak baik menurut-Nya.

Pandangan aja harus dijaga, apalagi berdua-duaan. Tapi bukan artinya pacaran gak boleh. Pacaran boleh, kok, nanti kalau udah nikah, hehe..

Mungkin iya, kita bisa dapat pasangan yang terasa ‘cocok’ untuk kita, tapi aku takut, kalau Allah gak suka caraku untuk mendapatkannya, aku bisa kehilangan nilai keberkahan di dalamnya. Padahal, hidup kita di sini kan untuk mendapat cinta-Nya kan?

Saat itu, aku ingat salah satu kalimat yang sempat terpikir di baris otakku,

Pangeran akan datang jika sudah tiba saatnya.
Sebelum waktu itu tiba, pangeran dan putri harus saling menjaga dirinya masing-masing, supaya pertempuan itu lebih sempurna.


taken from: here

22 March 2010

Cinta = Pacaran? Gak selalu


Cinta lagi, cinta lagi. Umur segini emang lagi hot-hotnya ngomongin cinta. Sama kayak blognya Rani sama Putri, gue ikut-ikutan latah ngomong cinta, hehe. Apakah karena banyak orang yg baru jadiankah akhir-akhir ini? Atau karena terlalu banyak sumpah-akan-menembak, rencana menembak, dan lain-lain? Entahlah, tapi ini gak akan nyambung dengan apa yang akan gue bahas.

Paradigma mengatakan, cinta harus (dan kebanyakan) berakhir dengan pacaran. Banyak orang yang mengatasnamakan cinta di atas segala sesuatunya. Ada kasus di mana seorang gadis-sebut saja Maimunah- merasa dirugikan oleh pacarnya-sebut saja Maimun. Tapi apa daya, cinta bertindak, keadilanpun kalah. Atas nama cinta, Maimunah mengerjakan apa saja untuk Maimun, demi mempertahankan suatu jalinan kasih yang tidak resmi. Gak ada tuh yang mananya 'Surat Izin Pacaran' atau 'Akte Pacaran'..gak ada tho? Maka dari itu, banyak kekerasan yang terjadi di antara dua manusia yang dimabuk cinta. Sang pria merayu, wanitapun terayu.

Buat gue, cinta gak harus berakhir dengan pacaran. (Oke, mungkin ada beberapa orang akan menyangsikan 'Apa bedanya status pacaran maupun orang-yang-dekat-tapi-seperti-pacaran a.k.a HTS ?' Pacaran di sini masuk ke dalam dua itu) Kenapa? Karena pacaran tidak selamanya membawa manfaat. Banyak hati yang tersakiti, banyak uang yang terhamburkan..semua karena sebuah status yang mengombang ambing. Coba kalo dipikir-pikir, pernah gak ada cewek yang minta balik semua perasaannya kepada si mantan? Nggak kan? Mungkin kalian bilang gue bodoh, tapi bukankah itu yang seharusnya dilakukan agar hubungan itu 'putus-secara-resmi-dan-cowok-brengsek-itu-pergi-dari-hidup-gue'.(Mengingat gue orang yang gak pengen rugi sedikitpun) Selain itu, walaupun si cowok mengumbar janji 'Gak kok, gue gak bakal ngapa-ngapain cewek ini!'. Tapi, ujung-ujungnya 'ngapa-ngapain' juga tho? Melakukan hal di luar batas kewajaran hubungan antar gender, dan yang paling parah adalah, kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Oke, mungkin ini alamiah dan, sekali lagi, memang umur segini sedang membara"nya. Tapi.. siapa yang bisa menjamin?

Oke, mungkin kalian bisa bilang gue sok suci-lah, atau apalah. Tapi beneran deh, gue juga remaja dan seorang cewek. Gue pernah (dan gampang) jatuh cinta. Gue juga pernah punya keinginan kayak gitu, atau bahkan pernah mengalami hal itu. Tapi...rasanya aneh aja. Beneran deh. Gue lebih memilih sohiban deket sama cowok daripada pacaran, trus putus. Trus jauhan. Gak asyik kan? Makanya, setiap mantan gebetan (lucu juga) gue, satu per satu mulai melempar hati gue satu per satu dan membuatnya pecah, gue udah kebal :) Hehehehe :D

Alasan kapoknya gue pacaranpun gara-gara arti suatu ayat di al-Qur'an: Wanita yang baik akan mendapat pria yang baik. Wanita yang baik ibarat berlian yang dikemas dan ada di dalam etalase. Ia terawat dengan baik, tidak terjamah, dan keindahannya akan terungkap jika ada 'pembeli' yang beruntung, yang membeli berlian tersebut dan menikmati keindahan berlian itu seorang diri. Asyik bukan? Menjadi berlian yang tercipta hanya untuk seorang pembeli? Memberikan semua rasa cinta dan kasih sayang secara utuh hanya kepada satu orang?

Jadi, untuk apa pacaran?

07 November 2009

must-read!

dari kekaguman akan tulisan seorang sahabat bernama Dwi Endah
pokoknya catatan ini subhanalloh berjudul

UNTUKMU AKHI

Kau bilang “ana akan ta’aruf dengan ukhti beberapa tahun lagi ketika ukhti sudah lulus
Buat apa kau katakan itu skrg akhi...
Jika belum siap adalah jawabannya,, lalu kenapa harus kau katakan rencanamu itu padaku..
Tidak taukah engkau,, kata2mu itu bisa menggoyahkan kekokohan iman yang sedang susah payah ku bangun..


Lalu ketika kau bilang “ana ingin jaga hati ana untuk ta’aruf dengan ukhti nanti
Lantas, apakah dgn kau bilang begitu dan sering menelfonku itu artinya tidak mengotori hatimu?
Kau memang sudah seharusnya menjaga hatimu sampai tiba waktunya nanti untuk kau berikan seutuhnya kepada wanita yang berhak.. tapi kan belum tentu wanita itu aku...


Ketika kau bilang.. “ati2 ya di sana.. jaga diri baik2..
Bukannya aku ga suka diperhatiin dan dijagain..
Tp cukuplah Allah yg menjagaku..
Dan tanpa kau bilang begitu pun aku akan berhati2 di sini dan menjaga diriku dengan baik untuk suamiku nanti.. dan itu belum tentu kau..


Ketika kau bilang “ana harap ukhti tidak ta’aruf dengan org lain sebelum ana
Kurang jelaskah jawabanku,, aku tidak bisa menjanjikan apa pun.. karena aku tak tau apa yang akan terjadi padaku nanti...
Sebuah kutipan yang perlu kau ketahui:
"Wahai akhwat, jika datang kepadamu laki-laki baik-baik yang melamarmu, maka bisa jadi dialah pangeranmu.
"Wahai ikhwan, jika gadis pujaanmu telah dilamar orang, maka lupakanlah. Karena bisa jadi dia bukan permaisurimu."


Aku yakin kau tau janji Allah.. laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik..
Maka kalau memang nantinya kita tak berjodoh,, ya itu artinya barangkali aku tak cukup baik untukmu.. pastinya ada wanita lain yang baik untukmu..

Dan yakinlah... kalau memang aku bukan tulang rusukmu,, maka apa yang kau rencanakan itu tak akan pernah terjadi...

Dan jika aku ini tulang rusukmu, maka tanpa kau minta aku untuk tidak ta’aruf dengan orang lain pun, aku akan tetap jadi pendampingmu..

Karena ku yakin,, tulang rusuk tidak akan tertukar..



Sumber: copypaste.com

CATATAN DWI ENDAH

09 September 2009

Da'wah Dusta

Ada sebuah kisah cantik yang dikutip oleh Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan dalam Taujih Ruhiyah-nya. Kisah menarik ini, atau yang semakna dengannya juga termaktub dalam karya agung Ibnul Qayyim Al Jauziyah yang khusus membahas para pencinta dan pemendam rindu, Raudhatul Muhibbin.

Ini kisah tentang seorang gadis yang sebegitu cantiknya. Dialah sang bunga di sebuah kota yang harumnya semerbak hingga negeri-negeri tetangga. Tak banyak yang pernah melihat wajahnya, sedikit yang pernah mendengar suaranya, dan bisa dihitung jari orang yang pernah berurusan dengannya. Dia seorang pemilik kecantikan yang terjaga bagaikan bidadari di taman surga.

Sebagaimana wajarnya, sang gadis juga memendam cinta. Cinta itu tumbuh, anehnya, kepada seorang pemuda yang belum pernah dilihatnya, belum pernah dia dengar suaranya, dan belum tergambar wujudnya dalam benak. Hanya karena kabar. Hanya karena cerita yang beredar. Bahwa pemuda ini tampan bagai Nabi Yusuf zaman ini. Bahwa akhlaqnya suci. Bahwa ilmunya tinggi. Bahwa keshalihannya membuat iri. Bahwa ketaqwaannya telah berulangkali teruji. Namanya kerap muncul dalam pembicaraan dan doa para ibu yang merindukan menantu.

Gadis pujaan itu telah kasmaran sejak didengarnya sang bibi berkisah tentang pemuda idaman. Tetapi begitulah, cinta itu terpisah oleh jarak, terkekang oleh waktu, tersekat oleh rasa asing dan ragu. Hingga hari itu pun tiba. Sang pemuda berkunjung ke kota si gadis untuk sebuah urusan. Dan cinta sang gadis tak lagi bisa menunggu. Ia telah terbakar rindu pada sosok yang bayangannya mengisi ruang hati. Meski tak pasti adakah benar yang ia bayangkan tentang matanya, tentang alisnya, tentang lesung pipitnya, tentang ketegapannya, tentang semuanya. Meski tak pasti apakah cintanya bersambut sama.

Maka ditulisnyalah surat itu, memohon bertemu.

Dan ia mendapat jawaban. ”Ya”, katanya.

Akhirnya mereka bertemu di satu tempat yang disepakati. Berdua saja. Awal-awal tak ada kata. Tapi bayangan masing-masing telah merasuk jauh menembus mata, menghadirkan rasa tak karuan dalam dada. Dan sang gadis yang mendapati bahwa apa yang ia bayangkan tak seberapa dibanding aslinya; kesantunannya, kelembutan suaranya, kegagahan sikapnya. Ia berkeringat dingin. Tapi diberanikannya bicara, karena demikianlah kebiasaan yang ada pada keluarganya.

”Maha Suci Allah”, kata si gadis sambil sekilas kembali memandang, ”Yang telah menganugerahi engkau wajah yang begitu tampan.”

Sang pemuda tersenyum. Ia menundukkan wajahnya. ”Andai saja kau lihat aku”, katanya, ”Sesudah tiga hari dikuburkan. Ketika cacing berpesta membusukkannya. Ketika ulat-ulat bersarang di mata. Ketika hancur wajah menjadi busuk bernanah. Anugerah ini begitu sementara. Janganlah kau tertipu olehnya.”

”Betapa inginnya aku”, kata si gadis, ”Meletakkan jemariku dalam genggaman tanganmu.”

Sang pemuda berkeringat dingin mendengarnya. Ia menjawab sambil tetap menunduk memejamkan mata. ”Tak kurang inginnya aku berbuat lebih dari itu. Tetapi coba bayangkan, kulit kita adalah api neraka; yang satu bagi yang lainnya. Tak berhak saling disentuhkan. Karena di akhirat kelak hanya akan menjadi rasa sakit. dan penyesalan yang tak berkesudahan.”

Si gadis ikut tertunduk. ”Tapi tahukah engkau”, katanya melanjutkan, ”Telah lama aku dilanda rindu, takut, dan sedih. Telah lama aku merindukan saat aku bisa meletakkan kepalaku di dadamu yang berdegub. Agar berkurang beban-beban. Agar Allah menghapus kesempitan dan kesusahan.”

”Jangan lakukan itu kecuali dengan haknya”, kata si pemuda. ”Sungguh kawan-kawan akrab pada hari kiamat satu sama lain akan menjadi seteru. Kecuali mereka yang bertaqwa.”

Kita cukupkan sampai di sini sang kisah. Mari kita dengar komentar Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan tentangnya. ”Apa yang kita pelajari dari kisah ini?”, demikian beliau bertanya. ”Sebuah kisah yang indah. Sarat dengan ’ibrah dan pelajaran. Kita lihat bahwa sang pemuda demikian fasih membimbing si gadis untuk menghayati kesucian dan ketaqwaan kepada Allah.”

”Tapi”, kata beliau memberi catatan. ”Dalam kisah indah ini kita tanpa sadar melupakan satu hal. Bahwa sang pemuda dan gadis melakukan pelanggaran syari’at. Bahwa sang pemuda mencampuradukkan kebenaran dan kebathilan. Bahwa ia meniupkan nafas da’wah dalam atmosfer yang ternoda. Dan dampaknya bisa kita lihat dalam kisah; sang gadis sama sekali tak mengindahkan da’wahnya. Bahkan ia makin berani dalam kata-kata; mengajukan permintaan-permintaan yang makin meninggi tingkat bahayanya dalam pandangan syari’at Allah.”

Ya. Dia sama sekali tak memperhatikan isi kalimat da’wah sang pemuda. Buktinya, kalimatnya makin berani dan menimbulkan syahwat dalam hati. Mula-mula hanya mengagumi wajah. Lalu membayangkan tangan bergandengan, jemarinya menyatu bertautan. Kemudian membayangkan berbaring dalam pelukan. Subhanallah, bagaimana jika percakapan diteruskan tanpa batas waktu?

”Kesalahan itu”, kata Syaikh ’Abdullah Nashih ’Ulwan memungkasi, ”Telah terjadi sejak awal.” Apa itu? ”Mereka berkhalwat! Mereka tak mengindahkan peringatan syari’at dan pesan Sang Nabi tentang hal yang satu ini.”

Ya. Mereka berkhalwat! Bersepi berduaan. Ya. Sang pemuda memang sedang berda’wah. Tapi meminjam istilah salah seorang Akh yang paling saya cintai dalam ’surat cinta’-nya yang masih saya simpan hingga kini, ini adalah ”Da’wah dusta!” Da’wah dusta. Da’wah dusta. Di jalan cinta para pejuang, mari kita hati-hati terhadap jebakan syaithan. Karena yang tampak indah selalu harus diperiksa dengan ukuran kebenaran.

taken from: Jalan Cinta Para Pejuang/Cinta Bersujud Di Mihrab Taat/Selingan Cinta dari Khazanah Lama
by Salim A. Fillah

01 September 2009

Kekasih Standard vs Kekasih Sejati


Kekasih standard selalu ingat senyum di wajahmu
Kekasih sejati juga mengingat wajahmu waktu sedih


Kekasih standard akan membawamu makan makanan yang enak-enak

Kekasih sejati akan mempersiapkan makanan yang kamu suka

Kekasih standard setiap detik selalu menunggu telpon dari kamu
Kekasih sejati setiap detik selalu teringat ingin menelponmu

Kekasih standard selalu mendoakan mu kebahagiaan
Kekasih sejati selalu berusaha memberimu kebahagiaan

Kekasih standard mengharapkan kamu berubah demi dia
Kekasih sejati mengharapkan dia bisa berubah untuk kamu

Kekasih standard paling sebal kamu menelpon waktu dia tidur
Kekasih sejati akan menanyakan kenapa sekarang kamu baru telpon?


Kekasih standard akan mencarimu untuk membahas kesulitanmu
Kekasih sejati akan mencarimu untuk memecahkan kesulitanmu


Kekasih standard selalu bertanya mengapa kamu selalu membuatnya sedih?
Kekasih sejati akan selalu mananyakan diri sendiri mengapa membuat kamu
sedih?

Kekasih standard selalu memikirkan penyebab perpisahan
Kekasih sejati memecahkan penyebab perpisahan


Kekasih standard bisa melihat semua yang telah dia korbankan untukmu
Kekasih sejati bisa melihat semua yang telah kamu korbankan untuknya


Kekasih standard berpikir bahwa pertengkaran adalah akhir dari segalanya
Kekasih sejati berpikir, jika tidak pernah bertengkar tidak bisa disebut
cinta sejati

Kekasih standard selalu ingin kamu disampingnya menemaninya selamanya
Kekasih sejati selalu berharap selamanya bisa disampingmu menemanimu


dan ingat, cinta biasa dilandasi dengan, "Saya mencintai dia karena...". Tapi cinta sejati selalu dilandasi dengan, "Saya mencintai dia walaupun..."


source : lupa :( maaf yaa copasan mulu =_____=

24 April 2009

my theme song

All I hear is raindrops falling on the rooftop
Oh baby, tell me why’d you have to go
‘Cause this pain I feel it won’t go away
And today I’m officially missin’ you

I though that from this heartache, I could escape
But I’ve had it long enough to know
There ain’t no way
And today I’m officially missing you

Chorus:
Ooh...can’t nobody do it like you
Said every little thing you do, hey, baby
Said it stays on my mind
And I’m officially

All I do is lay around, two years full of tears
From looking at your face all over
Just a week ago you were my baby
Now I don’t even know you at all, 
I don’t know you at all

Well, I wish that you would call me right now
So that I could get through to you somehow
But I guess it’s safe to say, baby
Safe to say that I’m officially missin’ you

Chorus:
Ooh...can’t nobody do it like you
Said every little thing you do, hey, baby
Said it stays on my mind
And I’m officially

Well, I thought I could just get over you, baby
But I see there’s something I just can’t do
From the way you would hold me
To the sweet things you told me
I just can’t find a way to let go of you

Chorus:
Ooh...can’t nobody do it like you
Said every little thing you do, hey, baby
Said it stays on my mind
And I’m officially

It’s official
Hoo, you know that I’m missin’ you, yeah, yes
All I hear is raindrops, oh, yeah
And I’m officially missin’ you 

*OMG this one is awesome! so touching :')

12 March 2009

tell me your result!

1st-taken from here

Your view on yourself:

You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:

You are a true romantic. When you are in love, you will do anything and everything to keep your love true.

Your readiness to commit to a relationship:

You are ready to commit as soon as you meet the right person. And you believe you will pretty much know as soon as you might that person.

The seriousness of your love:

You are very serious about relationships and aren't interested in wasting time with people you don't really like. If you meet the right person, you will fall deeply and beautifully in love.

Your views on education

Education is less important than the real world out there, away from the classroom. Deep inside you want to start working, earning money and living on your own.

The right job for you:

You're a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you'll be set for life.

How do you view success:

You are confident that you will be successful in your chosen career and nothing will stop you from trying.

What are you most afraid of:

You are concerned about your image and the way others see you. This means that you try very hard to be accepted by other people. It's time for you to believe in who you are, not what you wear.

Who is your true self:

You are full of energy and confidence. You are unpredictable, with moods changing as quickly as an ocean. You might occasionally be calm and still, but never for long.


Actually, I've already answer this test.. but I forgot to post it.. --;


2nd-taken
also from here

Here is the analysis:

  1. You've got great self-confidence and you're full of charm. Most guys who get to know you will be attracted to you. You are far from sweet and proper; your intriguing personality fascinates them. Most guys find it easy to fall for a girl like you.
  2. You don't really care about other people's feelings. You do things the way you want and usually think only about yourself. You are easy-going and love to have fun, but you can be irresponsible as well. You are not keen on serious discussions because they can make you remember that life isn't always about parties.
  3. You strictly follow rules, and you expect other people to be the same as well. People can get tired of you easily, as you can make them feel a little guilty about themselves. You always make decisions on your own, and can be dismissive of other people's advice. You like to be the leader in groups, but can forget to be concerned about the people you are with.
  4. Guys see you as being a thinker and a careful person. They will be really attracted to this quality in you, but you need to learn to speak your mind, otherwise people will find you too shy and quiet. Learn to relax and lighten up--it's okay to have fun sometimes. When you learn to develop your fun-loving side, guys are going to flock to your side.
  5. Your boyfriend believes that you are a strong and independent person. Your confidence and cheerfulness make you an attractive person to be around, but sometimes you need to pay more attention to what other people, including your boyfriend, are thinking.
3rd-click me

Here is the analysis:

You desire a love that will last forever. You are quite serious about finding this type of love, and that's why you think carefully about the men that you meet before deciding whether you could really love them. You don't just develop a crush on someone overnight: you look at a person's personality and other aspects of their life before deciding to form an attachment. If a guy doesn't meet your expectations, you would rather be alone. Your love has to be perfect. Be careful though, you could be missing out on some worthy relationships because your standards are so high.


haha.. Well, we can't fully believe this, but somehow I believe some of these :)

12 December 2008

susah yaa

buat jaga hati itu ternyata susah banget
apa emang ak.nya yg gg bisa jaga mata, atau emang nyari kesempatan?
rabb, maafkan ak. ternyata ak masi belum sanggup utk menggapai cintaMu.

berusaha utk tetap istiqomah. doakan ak yaa :)
"insan yg dewasa adalah insan yg istiqomah di jalanNya"
ak ingin menggapainya. bantu ak ya Rabb.