Showing posts with label future. Show all posts
Showing posts with label future. Show all posts

04 September 2010

Spend Rp 165K for nothing

This horrible things started about one or couple of weeks after I enrolled this hectic year. When I was offered to have a test called "Tes Minat Bakat" to see what talent we possess, and how it combines with your interest and help you to choose the desired university major. The test takes about 6 hours, doing a set of questions and tasks. And my results are:

1. Bachelor of Art - Architecture
2. Bachelor of Science - Information Technology
3. Bachelor of Art - Visual Communication Design

And for the interest, the consecutive choices based from things I desired the most are Mechanical, Practical, and Art.

When I were going to take this test at first, I hope it'll swell my parents' heart and make them realized that I have no talent in being a doctor. The result of my intelligence test is not too bad at all. But things that they haven't notice is: my creativity quotient is same with the numeric. Why I have to make it important? Because my prominent power that I possess since I was a kid is numerical quotient. When the creativity thingy comes with the same rate with the numeric, it means creativity is my newest prominent power! And do you know what my bloody hell mother said when I tell her I want to pursue Architecture?

"Architecture is for creative person. You're not a part of it."

AAAAHHHHH shoot you shoot me kayak cinta laurahh. I really hate people judgements when they didn't know the way you are. They (in this case: my parents) only know that I have to be a doctor. They tends to know everything about their children when the truth is, they know nothing. They may judge the absent of the creativity within me because they may have no art-tendency blood relation. But maybe, the existence of creativity comes from the very-very-utmost-ultimate-mega resistive chromosome which was sleep within me. Once it was detected and trusted people said it was exist, they deny it with all power they have. It really pissed me off. My 165K rupiah flew away that easy and got no change.

Gosh, how I terribly wanted to study abroad so I can earn my own money and cut the money-source bond between me and my parents :'( Blame my junior high moments, their forces to make me enroll it with their dreams to make me more independent which makes me almost ignore their existence. I do. I already do.

30 June 2010

What I wish to be and what they told me to be

Ohisashiburi, readers! Setelah sekian lama vakum karena ke(sok)sibukan saya ke sana-sini, jadi blog ini sedikit terbengkalai dan hampir masuk kategori 'Tidak Layak Baca'. Mungkin kalau blog ini sampah, udah di-daur ulang mungkin.

Hari Sabtu kemarin baru terima rapot dan alhamdulillah cukup memuaskan. Dan cukup shock karena mengetahui bahwa ranking 1 kelas saya rata"nya sembilanempatkomaan, saya mengambil kesimpulan bahwa kelas XII nanti belajarnya bener-bener gak boleh kedistract sama apapun kalo mau mendapatkan hasil maksimal. Karena saya orang yg cukup sensitif terhadap bunyi-bunyian (jadi kalo ada bunyi sedikit bakal gak fokus)-kecuali kalau saya tidur karena saya orang yg lumayan kebo *blak-blakan dikit lah*. Pengen jadi nerd setahun biar bisa menuai buah yg manis nantinya.

Gak kerasa banget. Bener-bener gak kerasa kalo udah ngelewatin kelas XI. Tahun yg disibukkan oleh organisasi, tahun di mana materi pelajaran lagi hot-hotnya digenjot, tahun yang paling cepet yg pernah saya laluin, beneran. Rasanya baru kemarin ada berita Mama Lauren meninggal, dan gue baru nyadar kalau berita itu muncul bulan Mei (gak penting sih, tapi anehnya saya bener" kaget pas tahu kalo berita itu muncul bulan Mei. Gue sangkain awal Juni atau kapankek). Satu minggu di kelas XI ini berasa sekejap mata banget. Tahu-tahu udah episode baru Maid Sama aja (Author note: Maid Sama tayang tiap Minggu malem, jadi kalo udah ada iklan"nya, gue agak parno soalnya gak nyadar udah mau ganti minggu).

Hal yg paling meresahkan hingga saat ini adalah: saya masih milih" jurusan kuliah yg disetujui sama ortu. Karenaaaaaa tipikal ortu Indonesia adalah profit oriented. Kalo mereka gak ngeliat perspektif kerja yg jelas buat kedepannya, mereka gak bakal setuju sama jurusan yg dipilih sama anaknya. Dan ujung-ujungnya menyarankan satu jurusan yg paling saya tidak sukai: kedokteran.

Kenapa kedokteran?

Menurut sumber yang (sepertinya) terpercaya (baca: orangtua saya), katanya saya punya bakat. Entah apakah itu penilaian yg subjektif atau tidak (karena sebagian besar keluarga saya adalah dokter), karena menurut saya sendiri, saya bingung wujud dari bakat yg mereka maksud itu berupa apa. Apakah karena banyak orang yg saya pijit dan mereka bilang pijitan saya enak, lantas saya punya bakat untuk menyembuhkan orang? Nggak kan? Seharusnya mereka membiarkan saya jadi tukang pijit kalau itu contohnya.

Selain itu, mereka bilang saya punya kapasitas otak yg memadai. INI JELAS SAYA BANTAH. Karena bukti konkret menunjukkan kalau nilai terjelek saya di rapor adalah Biologi, di mana pelajaran itu merupakan landasan pengetahuan yg berbau kedokteran dan sejenisnya.

Dan yg paling gak make sense, mereka bilang bahwa orang-orang yg mereka tinggikan (baca: ulama terkemuka di suatu daerah - FYI, keluarga saya cukup rajin menyambangi mereka, tanpa tahu mereka menjalani Islam secara kaffah atau tidak, jadi ulama yg disebutkan di sini agak kurang saya percayai kebenarannya) berkata bahwa saya pasti jadi dokter. Untuk ukuran orang yg baru pertama kali bertemu, hal itu gak make sense sama sekali. Mungkin karena hampir semua orang bilang kalau saya carbon copy ayah saya persis - cuma beda gender doang, sehingga mereka bilang kalo saya punya muka dokter. YA IYALAH. Coba kalo ayah saya petani, mereka pasti juga bilang kalo saya pasti jadi petani.

Mungkin untuk ukuran anak 8 yang mayoritas pengen masuk FKUI, saya termasuk anak-anak anomali. Kenapa saya gak pengen jadi dokter?
1. Jam terbangnya terlalu tinggi. Profesi dokter menuntut pelakunya untuk melayani pasiennya tanpa kenal waktu. Contoh gampangnya, rumah sakit gak ada yg punya rentang waktu operasional dari jam 07.00 - 21.00 kan? (misalnya). Ini menunjukkan bahwa selama rumah sakit buka, masih ada dokter yg bekerja di dalamnya, walaupun waktu itu di luar jam kerja praktiknya. Seperti ayah saya yg pernah baru pulang ke rumah jam 4 pagi dan berangkat lagi ke rumah sakit jam 7 pagi. Hal-hal ini bertentangan dengan saya yg senang hal-hal yg rutin dan gak bisa begadang alias kerjaannya tidur mulu.

2. No work, no money. Selama anda tidak bekerja, anda tidak akan mendapat uang. Saya lebih suka pekerjaan yg menghasilkan passive income, sehingga saya gak perlu kerja banyak untuk menghasilkan income yg sama besar seperti orang yg bekerja. (baca: saya orang yg malas)

3. (kalau insyallah saya punya keluarga kedepannya) Quality time dengan keluarga, terutama anak saya, akan berkurang. Dengan realita sekarang, di mana saya adalah anak seorang dokter dan pegawai swasta yg susah cuti, saya jaraaaaaang sekali menghabiskan waktu bersama keluarga primer saya. Singkat kata, saya lebih suka dibilang 'anak nenek' atau 'anak pembantu' dibanding 'anak mama', karena kenyataannya saya lebih sering berlibur sama nenek-kakek dan menghabiskan waktu di rumah dengan pembantu. Saya gak ingin hal ini terjadi dengan anak saya nantinya, jadi mendingan saya bekerja di rumah atau kerja yg menghasilkan passive income.

4. (obviously) It's definitely not my thing! Saya lebih suka menghitung daripada merelasikan pengetahuan yg saya baca dengan kasus yg saya hadapi atau dengan kata lain studi kasus. Saya gak suka melihat sesuatu yg gak normal - orang yg badannya tertancap kaca-lah, orang yg kecelakaan sampai berdarah"-lah, bahkan saya gak kuat ngeliat orang berdarah karena kebeset kaleng! Saya gak suka mengambil resiko, saya bukan orang yg rajin, dan pastinya saya bukan orang yg kuat untuk belajar ilmu kedokteran selama 7 tahun!

Maka dari itu, saya lebih prefer ambil:

1. Mechanical Engineering

Mechanical engineering is a discipline of engineering that applies the principles of physics and materials science for analysis, design, manufacturing, and maintenance of mechanical systems. It is the branch of engineering that involves the production and usage of heat and mechanical power for the design, production, and operation of machines and tools.

2. Electrical & Computer Engineering


Computer engineering, also called electrical & computer engineering, computer science & engineering, or computer systems engineering, is a discipline that combines both electrical engineering and computer science. Computer engineers usually have training in electronic engineering, software design and hardware-software integration instead of only software engineering or electronic engineering.

3. Architecture
Architecture (Latin architectura, from the Greek ἀρχιτέκτων – arkhitekton, from ἀρχι- "chief" and τέκτων "builder, carpenter") can mean:
  • The art and science of designing and erecting buildings and other physical structures.
  • The practice of an architect, where architecture means to offer or render professional services in connection with the design and construction of a building, or group of buildings and the space within the site surrounding the buildings, that have as their principal purpose human occupancy or use.[1]
  • A general term to describe buildings and other structures.
  • A style and method of design and construction of buildings and other physical structures.

Pengennya ngambil di luar negeri, tapi salah satu panelis seminar tentang sekolah di luar negeri bilang gini: "Kalo mau belajar di luar, mending S1-nya di Indonesia biar
punya basic pengetahuan yg sama, jadinya kalo mau kerja di Indonesia lagi, gak perlu susah" belajar ujian persamaan. Baru nanti S2-nya di luar. Tapi kalo mau S1-nya di luar, mending ambil major yg gak ada di Indonesia, jadi anda punya pengetahuan yg gak umum, tapi pada kenyataannya bisa diimplikasikan di Indonesia, karena gak banyak orang punya kemampuan tersebut."


Nah, PR liburan saya sekarang adalah mencari jawaban dari opsi kedua panelis tersebut, karena...saya entah kenapa gak minat sekolah di Indonesia, terutama UI. Saya belom mengeksplor UI terlalu dalam sih, tapi sepertinya saya tipe "judge the book by its cover"- kalo mau masuk teknik, masuk ke kampus yg ada nama 'teknik'nya, kayak ITB. Bilang saya freak, tapi itulah saya.

Salah satu yg bikin saya bingung memilih jurusan karena saya kebanyakan hobi. Saya suka belajar bahasa asing. Saya suka main biola. Mungkin kalo saya udah durhaka sama orangtua saya (astaghfirullah, jangan sampe!), saya udah ambil sastra bahasa asing sama teori musik.
NB: passive income: pendapatan yg didapatkan tanpa bekerja-biasanya berupa royalti atau hasil bermain saham

Karena pekerjaan tidak akan jadi membosankan selama kita masih punya passion di bidang itu :)

20 May 2010

It's gonna be a long post

Setelah berbulan-bulan vakum dari dunia per-blog-an, akhirnya gue kembali lagi! Yeaaay *gak jelas* Oke skip.

Jadi selama masa vakum itu, banyak peristiwa yg terjadi, di antaranya:

1. 8 Islamic Skills Competition a.k.a 8 Mission -- selengkapnya baca blognya Ikhsan. Males nulis, hehe



Intinya, acara ini adalah proker Rohis 8 berupa LOKETA (Lomba Keterampilan Agama) dengan 7 cabang lomba - MTQ, Adzan, Marawis, Cerdas Cermat, Jilbab Syar'i, Kultum, dan Kaligrafi. Dan lagi-lagi, gue jadi sekretaris bersama Insan si penjual pulsa (hehe peace san). Dan gue superrrr gabut selama acara karena sekretaris biasanya sibuk di awal dan akhir acara aja, ngurus proposal dan LK. Pra-pelaksanaan acara, kerjanya ....nyatetin rapat. Mana akhir-akhir ini file-ing gue lagi kacau pula, ckck (loh kok curhat). Sayangnya, gue gak dateng pas hari H karena event ke-2 yg akan terjadi setelah ini. Lengkaplah sudah dua tahun sebagai anak Rohis dan gak pernah dateng 8 Mission -___- Dan alhamdulillah, acara ini berjalan dengan lancar dan lebih baik dari tahun lalu.

2. Tour de Germany

Musim liburan memang belum lewat- jangan berpikir kalian udah melewatkan musim liburan. Di saat 8 lagi hectic dengan segala-macam-ujian dan gue dengan preparation AS level exam, di mana gue mengambil 4 subjects - Math, Physics, Biology, General Paper - dan kebanyakan temen-temen gue ngambilnya cuma Math aja (karena wajib), gue diajak liburan ke Jerman. Cukup gila, bukan? Dan mungkin, kata 'liburan' di sini agak kurang tepat, karena gue diajak karena:
1) Adek gue udah liburan. Satu setengah bulan sampai tasyakuran.
2) Kakek-Nenek gue mau jenguk om yang tinggal (dan udah jadi warga negara) di sana. Karena mereka udah lansia, mana Nenek gue lututnya bermasalah, Kakek gue susah jalan karena obesitas, jadi mereka perlu GUARDIAN. Inilah tugas utama gue di sana.
3) Gue udah berusaha biar gak ikut ke sana karena -again, gue (sok) sibuk sama persiapan AS level, dan makin deket hari-H ujian, pasti banyak Try Out". Dan yg sebelnya.. gue gak ikut 8 Mission :'( Mana bokap-nyokap gue juga gak bisa cuti, akhirnya anak tertuanyapun dijadikan tumbal.

Oke, kita mulai perjalanan kita. Kencangkan sabuk pengaman anda, tegakkan sandaran kursi, kunci dan lipatlah meja yang berada di depan anda.

Day 1 and 2 (30 April 2010): Jakarta - Doha - Berlin Tebak jam berapa gue take off dari Soekarno-Hatta? Bener, jam setengah 2 pagi. Naik Qatar Airways ke Berlin dan harus transit di Doha (ibukotanya Qatar). Perjalanannya sekitar 7-8 jam dan nyampe di Doha jam setengah 6 pagi waktu sana (Waktu Indonesia Barat dikurang 4 jam). Pas ngantri mau transitnya...banyak banget orang Indonesianya! Se-security X-Ray barang-nyapun orang Indonesia! Soalnya pas pesawat gue mendarat, trus kan banyak TKI-TKI gitu, si petugasnya bilang, "Sabar mbak..jangan desek-desekan.." Mana TKInya ada yg salah masuk ke bagian transit, lagi! Bukannya ke bagian yg mau masuk negaranya. Akhirnya, serombongan penuh TKI pindah dari barisan transit ke bagian masuk ke Qatar-nya, phew!


Setelah melewati X-Ray, akhirnya masuk dan ke gate tempat masuk pesawatnya. Tapi, di boarding passnya bilang kalo gue berangkatnya jam setengah 1 siang. Artinya...gue mesti nunggu 7 jam di airport!!! Akhirnya gue dan adek gue (kita berangkat berdua dari Jakarta-Berlin) keliling-keliling airport kayak anak hilang! Dari Duty Free Shop-nya, Cafe, sampe nyari-nyari stop kontak buat nyolokin adapter laptop biar bisa pake Wi-Fi gratis. Nyatanya? Gak bisa connect sama sekali -___- Mana HP gue juga gak bisa dipake di sana, mungkin karena im3 abalan *jahat*, padahal HP adek gue yg pake Matrix bisa dipake, bzzt.

Selain itu, gue juga norak banget. Karena ini pertama kalinya gue ke luar negeri sendiri (adek gue gak dihitung soalnya dia maunya ngekor gue aja) dan pertama kalinya juga gue transit, gue bolak-balik ke security desk buat nanyain koper-koper. Padahal orang securitynya udah bilang, "It's fine", tapi gue tetep aja cemas! Sampe orang securitynya bosen ngeliat gue kali ya, haha. Akhirnya setelah nunggu 7 jam di sana, gue berangkat juga ke Berlin.

Di Berlin, ternyata koper gue ada! *norak maksimal* Alhamdulillah. Dan ternyata, kakek-nenek gue udah nunggu di sana juga. Om gue dan mobilnya lagi muter, soalnya biaya parkir di airport Berlin Tegel mahal banget! Katanya 1 jam bisa sampe 20 Euro (20 x Rp.12000 = Rp240.000!). Akhirnya setelah mendarat, kita ber5 makan di Kebab House gitu punya orang Libya, baru nganter gue dan adek gue ke hotel tempat kami ber2 (sama adek) nginep buat semalam. Errr..mungkin ini lebih tepatnya bukan hotel sih, tapi kayak motel yg ada di pinggir jalan raya. Tapi kamarnya bagus dan terlihat hangat. Abis unpacking, kami ber5 ke hotel tempat kakek-nenek gue nginep. Ternyata deket banget! Jadi besok paginya kalo mau ke Braunschweig (kota tempat om gue tinggal), gue + adek tinggal narik koper kami, nyebrang jalan, jalan sedikit, sampai deh!

Day 2 - Berlin-Braunschweig (via Poland)
Setelah nginep satu malam di Berlin, kami ber5 ke Braunschweig. Tapi ternyata, om gue mau ke Polandia dulu buat beli rokok buat kiosnya (FYI, om gue buka kios sama warung pizza di Braunschweig)

Jalan ke Polandia dari Berlin makan waktu sekitar 3-4 jam. Itu dengan kecepatan mobil om gue yg gak pernah kurang dari 100 km/jam (wajar, soalnya di Jerman mobilnya sedikit dan kecil-kecil, jadi gampang nyalipnya). Kenapa harus Polandia? Karena harga rokok di situ lebih murah. Dan om gue belinya di toko yg cuma jual rokok dan alkohol. Nah di situ, nenek gue melihat sesuatu yg mirip sama selai strawberry gitu. Pas ditanya, ternyata itu buat shisha -_____-.


Banyak mobil berplat ini di Poland. FYI, inisial di bawah lambang European Union itu adalah inisial nama negara. D is for Deutsch, PL is for Poland, and so on.


Dari Polandia, kami ber5 langsung ke Braunschweig. Karena gue dan adek gue udah gede (dalam hal umur maupun ukuran tubuh), kami ber4 - minus om gue yg punya apartemen sendiri- nginep di salah satu hotel. Lagi-lagi, ini hotel bukan sembarang hotel. Hotelnya ada di sebuah gedung, jadi pemiliknya 'beli' satu unit gitu, nah di unit itu dibikin kamar buat hotelnya.


Ini pintu masuk hotelnya. Jadi 'hotel'nya ada di dalem situ-10 kamar yg lumayan gede, 2 kamar mandi masing" buat cewek-cowok (tapi di kamar kakek-nenek gue udah ada kamar mandinya), dan DAPUR! Dan nenek gue udah menyiapkan berbagai macam ransum yg sangaaaat banyak. Mending kalo bawanya mie instan aja. Nenek gue sampe bawa rendang, dendeng + sambelnya segala! Jadi gak ada yg namanya kangen"an masakan Indonesia, sekalian menghemat uang buat beli makanan di sana - karena susah nyari makanan halal di Braunschweig.




Makanan-makanan ini dengan sukarela dimasukkan ke dalam koper dan dimasukkan ke bagasi, demi memenuhi perut-perut lapar kami di negeri orang

Di Braunschweig, kami berempat jalan-jalan ke sekitar daerah situ. Udaranya masih superrr bersih, dingin (padahal itu masih transisi dari Spring ke Summer) sampai" gue harus pake sweater tebel yg untungnya baru dikasih (dan bodohnya karena gue pikir udah summer, gak bakal sedingin itu. Crap). Udaranya bersih banget karena mayoritas orang Jerman travelling naik sepeda, jalan kaki, naik bus atau trem. Sepeda motor aja jarang banget gue temuin, dan sekalinya ketemu, rider-nya pakai protection kayak mau lomba Moto GP. Dan salah satu tempat yg dikunjungi adalaaaah:

Schlöβ Arkaden!


Gedung ini tadinya adalah istana raja yg diubah jadi shopping district. Besaaaar banget, dan hanya berjarak satu stasiun trem kalo naik trem dari Hagenmarkt - tempat gue nginep. Jadi lumayan sering ke sana, hehe.

Day 3 and on - Braunschweig Independent City Tour

Gak, gue gak ikut tour manapun buat keliling Braunschweig. Hanya mengandalkan ingatan nenek yg tiap tahun selalu ke Jerman (buat ngunjungin om gue, pastinya), kami berempat jalan-jalan di Braunschweig. Dan karena gue jalan-jalan sama orang tua, jadi gak banyak tempat yg dikunjungin. Untungnya kadang-kadang kakek-nenek gue pengen istirahat, dan mereka memberikan izin gue dan adek gue buat jalan-jalan, hehe.

Salah satu tempat yg gak sengaja dikunjungi adalah suatu shopping district yg baru gue sadari adalah tempat gue pernah hilang pas ke Jerman 10 tahun yg lalu!! Gue masih inget banget hilang di situ karena letak toko-tokonya gak ada yg berubah sama sekali. Kenapa gue hilang di situ 10 tahun yg lalu? Karena gue pergi bareng adeknya nenek gue, dan doi mau beli coklat buat cucunya, dan di antara kami, gak ada yg tahu jalan pulang! Untungnya gue bawa permen dari hotel tempat kami nginep, jadi gue nanya jalan sambil nunjukin permen yang berlogokan lambang hotel tersebut, hahaha.

Salah satu site di shopping district tersebut:

Air mancur di depan gereja bergaya Romantik. Gerejanya ada di belakang fotografer

Buat orang yg follow twitter gue (@rahmatikadiinzu), gue pernah ngetweet 'Test ngetweet dari telepon umum', dan inilah telepon umum yg gue maksud. Telepon umum bertouchscreen keluaran T-Mobile ini sebenarnya adalah Wi-fi router, jadi kalo cari Wi-fi sekitar telepon itu, pasti ketemu. Too bad, Wi-finya gak gratis (semacem Wi-fi im2 kalo di Indonesia). Mengapa bertouch screen? Karena telepon umum ini juga bisa berfungsi sebagai tourist information. Masukkan koin ke slot di sebelah kanan bawah screen, dan pakailah telepon umum ini sesukamu hingga waktunya habis. Sayangnya, di telepon umum ini gak ada web browser, dan hanya bisa buka Twitter, Google, dan email client seperti Hotmail atau Yahoo. FYI, di belakang telepon umum itu adalah toilet umum super keren (sayangnya gak sempet difoto) seharga 20 sen sekali masuk.

Btw, kenapa gue bilang 'gak sengaja dikunjungi'? Karena waktu itu gue dan adek gue lagi nyari money changer bernama Raisebang-the one and only money changer around Schlöβ Arkaden, mereka bilangnya 'You can walk for ten minutes, then you can find Raisebank'. Setelah muter-muter sana sini, akhirnya ketemu! Tapi ternyata bank-nya lagi istirahat, jadi kami jalan-jalan dulu sambil narsis sana sini :D
Buat orang yg follow twitter gue (@rahmatikadiinzu), gue pernah ngetweet 'Test ngetweet dari telepon umum', dan inilah telepon umum yg gue maksud. Telepon umum bertouchscreen keluaran T-Mobile ini sebenarnya adalah Wi-fi router, jadi kalo cari Wi-fi sekitar telepon itu, pasti ketemu. Too bad, Wi-finya gak gratis (semacem Wi-fi im2 kalo di Indonesia). Mengapa bertouch screen? Karena telepon umum ini juga bisa berfungsi sebagai tourist information. Masukkan koin ke slot di sebelah kanan bawah screen, dan pakailah telepon umum ini sesukamu hingga waktunya habis. Sayangnya, di telepon umum ini gak ada web browser, dan hanya bisa buka Twitter, Google, dan email client seperti Hotmail atau Yahoo. FYI, di belakang telepon umum itu adalah toilet umum super keren (sayangnya gak sempet difoto) seharga 20 sen sekali masuk.

Btw, kenapa gue bilang 'gak sengaja dikunjungi'? Karena waktu itu gue dan adek gue lagi nyari money changer bernama Raisebang-the one and only money changer around S
My second favourite spot:
Semacem 'Giant'nya Jerman. Dan layaknya supermarket lainnya di Jerman, kita harus beli kantong plastik buat bawa belanjaan, ato gak kita bawa sendiri kantong belanjaan. Kerennya lagi, kita bisa daur ulang botol minum dengan masukin botolnya ke dalem mesin, dan kita bisa dapet 25 sen per botol dan bisa jadi diskon kalo kita belanja di supermarketnya :)

Day 7 - Berlin and Home

Karena bentrok sama AS Level Pure Math, gue mesti pulang lebih awal dari adek dan kakek-nenek gue. Padahal mereka mau ke Munich, jenguk istrinya Pak Habibie :( Akhirnya gue pulang sendiri Berlin-Jakarta.

Pas jalan dari Berlin-Doha, pesawatnya super sepi. Gue duduk di tempat yg bertiga dan cuma diisi berdua sama orang India. Dan pas dari Doha-Jakarta..rame sama TKI dan orang" yg baru pulang umroh. Karena gue ada di seat agak belakang dan jatahnya buat berdua, seatmate gue adalah seorang TKI yg udah sekian lama gak pulang kampung. Percakapanpun dimulai.

T (TKI): Mbak, pulang ke Jakartanya ke mana?
G (gue): Ke Kuningan mbak
T : Kuningan.. Jawa Barat?
G : *facepalming* Bukan mbak. Kuningan.. Mega Kuningan.. Setiabudi.
T : Tapi itu di Jawa kan?
G : Iya (karena gue pikir awalnya 'Jawa' itu 'Pulau Jawa', jadinya..)
T : Ooh, Jawa Timur?
G : *cuek, gak dengerin lagi*

Beberapa saat kemudian..
T : Gimana mbak, 3 tahun di sini?
G : *mikir. 3 tahun? Jangan bilang maksud lo..* Nggak mbak, saya bukan TKI. Saya baru pulang dari Berlin. (dalem hati: Enak aja, lo kira gue TKI? Mentang" gue pake kerudung, jadinya..)

Dan TKI itu agak 'sedikit' mengekor gue. Dari menu makanan, sampe form bea cukai gue juga dicontek. Bukannya sok hebat, tapi dari dulu gue risih kalo diplagiatin. Huuuh. Untungnya perjalanan Doha-Jakarta lumayan cepat berlalu.

I totally miss Germany a lot. I wish I can attend a certain university there.