07 August 2009

blue princess

Kamu mau jadi sahabatku ketika ku berjanji, berjanji bahwa tidak akan ada lagi korban, janji bahwa suatu hari nanti aku akan berubah, janji bahwa aku akan menjadi pangeran yang lebih baik lagi. Kamu adalah putri pertama di kerajaan itu, putri dengan berbagai sifat yang unik. Kadang dewasa, kadang seperti anak-anak, tomboi dan gokil namun kamu penuh senyum. Sifat rendah hatimu menggambarkan bahwa kamu adalah seorang putri remaja yang mungkin nantinya akan menjadi seorang ibu yang akan mendidik dengan hati bagi anak-anaknya.

Seorang ibu yang mungkin akan menjadi awan yang teduh bagi anak-anaknya. Ketika peran ibu dapat dimainkan dengan baik maka sebuah keniscayaan bahwa sang suamipun akan merasa tenang dan tentram disampingnya. Ia akan menjadi istri yang mengerti bahwa suaminya tidaklah semulia Muhammad, tidaklah setakwa Ibrahim, pun tidak setabah Ayub, ataupun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf. Ketika suami menjadi raja maka kamu nikmati anggur singgasananya. Ketika suami menjadi bisa maka kamulah penawar obatnya. Wahai Putri Biru, engkaulah dambaan setiap pangeran di seluruh penjuru negeri….

Perlahan namun pasti akhirnya perasaan itu hadir, ketika sang putri mencoba menerimaku. Ketika dia tidak melihat masalaluku, saat dia tahu resiko menjadi permaisuriku. Dianggap aneh, dikucilkan, dibuang, malu dan dianggap mengkhianati kerajaannya. Karena dia yakin suatu saat, aku akan berubah. Dan jika saat itu datang, dia mau aku menjemputnya untuk pergi ke surga abadi, saat dia berikan jawaban YA atas cintaku.

Ku tahu dia tidak mau menunggu dan ditunggu tapi dia ingin kudatang lebih dulu. Ketika kumerasa tidak pantas untuknya, merasa tidak yakin pada dirinya namun keyakinannya pada diriku membuatku bertahan. Keyakinan itu yang membuatku mempunyai seribu harapan tentang dirinya, harapan bahwa kami akan menjalani hari-hari kami dalam indahnya kebersamaan, dalam indahnya payung Illahi.

Putri Biru bukanlah gadis yang romantis karena mungkin dia hanya bisa memanggilku dengan panggilan yang kusuka, hanya bisa memahami apa yang kumau, hanya bisa bersyukur menemukanku, hanya bisa berharap bahwa aku benar-benar untuknya dan mungkin dia memang hanyalah seorang putri dan bukanlah bidadari. Tapi usahanya menjadi yang terbaik bagiku telah menjadikannya putri yang telah mengharu biru di hati ini, ketika dia rela menjadi Fatimah yang menumbuk sagu dengan tangannya sendiri, ketika dia rela menjadi hadijah yang menginfakkan semua hartanya dalam dakwah, ketika dia rela hidup apa adanya bersamaku nanti, ketika dia mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. Adakalanya putri tidak bijak, tidak dewasa, dan tidak mengerti.

Tapi apakah pangeran sepertiku bisa meluruskannya yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok? Sementara aku hanyalah seorang pengeran tanpa kerajaan, pangeran yang masih jauh dari kata baik apalagi soleh. Dalam banyak waktuku, hanya sebentar aku menyapa ”temanku” yang bertuliskan huruf Arab sementara untuk berbincang dengan ”temanku” yang banyak humor dan gambar, aku sampai lupa waktu. Saat suara adzan datang menyeru justru seruan yang lainnya yang kudengar dan kusambut. Benarkah pangeran ini pantas untuk putri biru?

Seorang wanita solihah yang selalu menutup auratnya, yang bicara dengan pria bukan muhrim tanpa menatap matanya, yang tidak mau berjalan bersisian dengan pria yang bukan muhrimnya. Ya Allah, apakah Engkau mengirimkan putri ini sebagai perantara datangnya hidayahMu untukku. Apakah Engkau mengirimkannya agar aku kembali menjadi pangeran yang baik lagi, seperti yang dulu lagi, yang taat dan patuh akan perintahMu.

Dan akhirnya setelah ”kebersamaan” yang sesaat ini.......

”Mas, jaga intensitas interaksi kita, jangan terlalu sering! Ibadahku jadi tidak khusuk, takut perbaikan diriku bukan karena Allah tapi karenamu, takut cinta itu bukan karena Allah. Kita seperti sedang ”pacaran” padahal kita tahu bahwa pacaran tidak diperbolehkan sebelum resmi menikah. Astaghfirullah...... Biarkan rasa itu tumbuh subur di tempat yang benar. Kita sudah punya bibitnya dan akan kita tanam di tempat dan waktu yang tepat. Aku tidak mau melupakanmu tapi kalau kamu mau aku diam, menahan perih karena rindu, pedih dan sakit karena tidak bisa menyapa ketika bertemu, terluka karena tidak bisa saling senyum Insya Allah aku kuat. Ibarat biji, aku harap cinta kita tidak mati tetapi sedang berdomansi, sedang menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh subur di hati masing-masing.

Saat ini kita ibarat sedang mengulurkan tangan ingin saling bertukar benih tapi kita tersadar bahwa belum waktunya kita untuk menukarkannya. Aku takut biji ini membusuk di hati masing-masing bukan subur seperti yang kita harapkan. Aku meminta kita menahan, bersabar, berdoa, berikhtiar sekuat-kuatnya dan bertawakal sepasrah-pasrahnya. Aku lebih meminta barokah dari Allah untuk cinta kita. Aku tidak mau Allah tidak meridhoi ikatan suci kita nantinya karena permulaannya yang salah. Insya Allah aku akan berdoa untuk kita, berdoa agar kita diberi kesabaran, kekuatan, kepasrahan sebesar-besarnya olehNya. Semoga kita bisa menghadapi semua ini dengan ikhlas. Wahai pangeran yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir kita.

Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucumu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang. Wahai pangeran yang telah mengusik pikiranku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia, akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Mintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, mintalah kepada-Nya agar tetap menempatkan malu ini pada tempatnya. Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA”.

Setelah membaca surat itu, akhirnya aku sadar bahwa hubunganku selama ini dengan sang putri adalah sebuah kesalahan dan kekhilafan. Sungguh betapa sangat inginnya aku agar sang putri menungguku hingga aku siap dan datang menjemputnya. Betapa inginnya aku untuk mengetahui kabar sang putri tiap hari. Tapi sungguh ternyata ada yang lebih kami cintai dibandingkan cinta diantara kami. Dialah Allah, yang membawa kami ke jalan ini, menuntun, merangkul kami dengan cinta. Dialah Allah, tempat kita meminta dan berharap. Dialah Allah, yang telah memberi kami kehidupan dan yang akan mematikan kami kembali. Dialah yang berkuasa penuh atas hati, jiwa, dan pikiran kami yang tidak ada seorangpun yang dapat menyamaiNya apalagi melampaui kekuasaanNya.

Dan Allahpun telah mengingatkan kita dalam firmanNya, ”wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).......” (QS. An Nur : 26).

Mungkin apa yang terjadi antara aku dengan sang putri adalah kehendak Allah untuk memberikan pelajaran padaku tentang apa itu arti hidup dan cinta yang sebenarnya. Tapi sungguh aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada sang putri, kusampaikan penghormatan setinggi-tingginya padanya, paling tidak dia sedikit mengubah hidupku. Dan akupun hanya bisa senyum atas ”kebersamaan” kami selama ini, entah senyum bahagia, senyum beku, atau mungkin juga senyum yang sudah tidak berbentuk lagi.

Dan pangeran inipun hanya bisa mengajak dirinya dan kepada para pembaca, yang khususnya sedang menanti kehadiran ”Putri Biru” ataupun sedang menanti saat yang tepat untuk menjemput ”Putri Biru” agar selalu mempersiapkan diri, agar terus dan tak pernah berhenti memperbaiki dan membina diri karena sungguh Allahlah sebaik-baik pembuat janji dan sebaik-baik yang menepati janji.

Dan kita sebagai hambaNya yang lemah dan tak berdaya harus memiliki hati yang ikhlas dan tidak tertindas dalam menerima setiap keputusanNya agar langkah ini bisa terus berjalan meskipun kadang harus berhenti, agar mimpi-mimpi kita dapat segera terwujud, dan agar nada-nada yang telah hilang kembali tersenandungkan.


PS: maaaaaaf banget ya sau, first post-nya kembaran :(

the one that I love ♥

Now, here's what you're supposed to do, and please do not spoil the fun. Copy and paste this into your notes, delete my answers, type in your answers and tag 20 of your friends here in facebook to answer this. Then see what happens.

if you a guy- post this as my kind of girl..
if your a girl- post it as my kind of guy..




1. Do you need him/her to be good looking?
at least, good looking buat gue :D

2. Smart?
obviously

3. Preferred age?
hmm..asal gak lebih muda, lebih tua dikit boleh laaah

4. Preferred height?
gak lebih pendek dari gue. same height or higher are better

5. How about sense of humor?
okaay. jayus juga oke (Y)

6. How about piercings?
gak deh makasih

7. Accepts you for who you are?
yap. saling self-reflecting juga oke banget :)

8. Pink hair?
kasian nanti kalo punya anak, jadi botak gara" kalo laper, anaknya makanin rambut bokapnya *jayuuus*

9. Mushy or no?
gak deh. kasian kalo gue cuekin terus -____ - then I won't end my warrior side bzzt abis

10. Thin or fat?
gak obess n gak ceking. well sebenernya whatsoever sih tapitapi KALO CEKING NTAR GUE KEBANTING DONG gue genduut

11. Black, Brown or White (skin color)?
not the tanned one

12. Long hair or short hair?
shorties :)

13. Plastic or metal?
what??

14. Smells good?
bonus deh

15. Smoker?
no

16. Drinker?
NO

17. Girl/Boy-next-door type?
gak ah

18. Muscular?
JANGAN LEBAY ntar saingan kuli sama gue =____=

19. Plays piano?
boleeh :)

20. Plays bass and/or acoustic guitar?
sip (Y)

21. Plays violin?
duet deh..

22. Sings very good?
gak harus juga sih

23. Vain?
males deeeeh

24. With glasses?
♥♥♥♥♥♥

25. With braces?
hahaha kembaran dong

26. Shy type?
gak ah. mesti pinter ngomong (soalnya gue nggak)

27. Rebel or good boy/girl?
good boy with some rebel attitude haha

28. Active or passive?
aktif doong

29. Tight or bomb?
??

30. Singer or dancer?
rakyat HAHAHA

31. Stunner?
gaK deh

32. Hiphop?
weirdooo

33. Earrings?
naah naah

34. Mr/Ms. count-my-ex-girlfriends-un
til-you-drop?
males

35. Dimples?
optional

36. Bookworm?
asal satu genre :)

37. Mr/Ms. love letter
(Y)

38. Playful?
yap

39. Flirt?
*one eyebrow rised*

40. Poem writer?
♥♥♥

41. Serious?
occasionally

42. Campus crush?
wetsssssssss

43. Painter?
*writing the ideas*

44. Religious?
sip!

45. Someone who likes to tease people?
kalo niatnya cuma becanda ya gpp lah

46. Computer games geek? Or internet freak?
ayo duel!

47. Speaks 20 languages?
MAUUUU ajarin ajarin

48. Loyal or faithful?
both

49. good kisser
NC

50. loves children??
asal jangan pedofil aja :p

02 August 2009

'turn the TV off!'

Tiba-tiba gue teringat suatu kejadian menggelikan yang dilakukan oleh nyokap gue belum lama ini.

Alkisah pada suatu malam di sebuah apartemen di bilangan Mega Kuningan, beberapa ratus meter dari tempat di mana salah satu kesebelasan ternama di dunia pernah akan menginap, terjadi sebuah keheningan..

Gue (G): (sedang ber-geje dengan hening di kamar)
Nyokap (N): (di ruang tamu, di mana akan anda temui ketika masuk dari pintu depan)

G:(keluar kamar)
N: Eh Din, tadi kamu nyalain TV kamar?
G: Nggak kok. Emang kenapa?
N: Ya ampun berarti tadi aku neriakin orang depan...
G: Emang gimana?
N: Jadi gini, tadi pas aku ngaji di ruang tamu, ada suara TV gedeee banget. Aku pikir tadi itu kamu yg lagi nonton di kamar. Terus aku teriak, "Din, matiin TVnyaaaaa!!!" (FYI, nyokap gue gak suka ribut. Makanya kalo nonton TV, gue selalu kecilin banget volumenya sebelum terjadi perang dunia ketiga hal-hal yang kurang mengasyikkan). Dan seketika itu, volume TVnya langsung dikecilin.
G: NAH LO gimana tuh?
N&G: (ngakak gak berhenti")

Kami menertawakannya, entah karena itu lucu atau selera humor jayus kami yang tinggi...


PS: gue gak ikut CAIRO, kegiatan klimaks dari kaderisasi ROHIS. how uncool \(>n<)/
PPS: I'm one of the commitee of my gramps' gold wedding. Be up-to-date with my new post about it!

30 July 2009

spending two days bolos *coret* training @ Puncak

Akhirnya gue ke Puncak juga!

Aneh? Gue memang baru tiga-empat kali-an ke tempat favorit warga Jakarta melepas penat itu. Yang pertama dan kedua pas gue kecil, dan yang gue inget cuma gue kabur ke lantai dua vila yg gue tiduri gara-gara takut naik kuda. Freak memang. Yang ketiga, beberapa hari sebelum tsunami Aceh, dan nginep bukan bareng orang tua, tapi bareng kakek-nenek. Dan yang keempatpun gak bareng kakek nenek, dan bukan juga bareng orang tua. Tapi dalam rangka ikut pelatihan "Public Speaking and Enterpreneurship" yang diselenggarain sama Dinas Pemuda dan Olahraga Kodya Jakarta Selatan.

Dan ini pelatihan yang aneh.

Keanehan pertama: Di surat undangan yang dikirimkan ke SMA gue, udah jelas tertulis:
"...demi meningkatkan kompetensi siswa SMK se-Jakarta Selatan..."

What the...? Asumsi pertama gue, emang sekretaris yang ngetikin undangan itu salah ketik. Asumsi kedua, itu undangan buat SMK se-Jaksel. Dan ternyata, asumsi kedua gue mendekati kebenaran seiring dengan ditemukannya keanehan-keanehan lainnya.

Keanehan kedua: Jadwalnya ngaret parah. Beberapa orang dari rombongan kamipun sempat jajan, termasuk gue. Oh iya, rombongan kami terdiri dari 11 orang, yaitu Ina, Nisa, Rizka, Emil, Shaula, Dyza, gue, Hanif, Pras, Rendra, dan Hakim. Pelopor dari kegiatan jajan menjajanpun, tak lain dan tak bukan adalah Pras, yang dengan santainya menyantap rujak di luar bis pengap yang sedang menunggu untuk diberangkatkan. Dasar manusia berotak dominan reptil, beberapa orangpun beranjak menuju abang-abang tukang rujak yang dengan setia menunggu di luar. Gue sebenarnya juga ingin jajan, tapi gue gak suka rujak. Penjaja makanan yang gue tau di sekitar situ cuma restoran Padang, tapi jauh dan malesin. Akhirnya, gue menemukan sebuah restoran kecil dengan makanan dan minuman aneh yang dijajakan:
Es Soklat
Wedang Jahe Soklat
Oh well, that's quite good spot I think. Lalu gue ajak Dyza untuk jajan di situ, sembari menghirup udara segar di luar bis pengap tersebut. Gue dan Dyza sepakat untuk memesan pecel ayam. Sekembalinya ke bis, seperti biasa makanan kami diserbu (well, lebih tepat makanan Dyza karena makanan gue bebas jamahan tangan :p) tangan-tangan yang haus akan kontak dengan makanan. Tak lama setelah itu, bis pun berangkat.

Sembari bercerita tentang banyak hal, dari Gandul sampai Cinere (ini topik ya, bukan daerah) kita bicarakan. Hingga semua tertidur dan sampai di tempat tujuan.

Keanehan ketiga: Suratnya bohong! Acara tidak dilaksanakan di Wisma DPR, tapi wisma yang jauh, sekitar 1 km dari wisma DPR.

Kami sampai, turun dari bis, dan dipecah menjadi dua. Yang lelaki bermalam dan memakan makan siang-malam-pagi di wisma bawah, dan wewanita melakukan hal yang sama di wisma atas. Setelah beberes dan menghabiskan waktu satu jam, kami beranjak ke tempat pelatihan. Registrasi dan prosesi duduk kami lalui, dan sesi pembukaanpun dimulai. Keanehan demi keanehan terus terungkap...

Keanehan keempat: EH BENAR, KAMI SATU-SATUNYA PESERTA DARI SMA DI RUANGAN ITU. Hal itu terungkap ketika pembuka acara menanyakan,
Pembuka Acara (PA): Ini semua dari SMK kaaaaan?
Peserta (P): Iya paaaaak
Kami (K): Nggaaaaak
PA: Baik, siapa peserta dari SMA di sini?
K: (tunjuk tangan)
P: (menengok ke arah kami)
Ah, biarlah. Toh materi yang diberikan tidak terlalu spesifik dan menjurus ke arah pendidikan ke-SMK-an.

Materi pertamapun dimulai, yaitu tentang Public Speaking. Kami disuruh membentuk 6 kelompok dengan sistem hitung. Kelompok 1 dihuni oleh Nisa dan Emil (anak 8-nya), kelompok 2 dihuni oleh gue semata \(>n<)/, kelompok 3 tidak dihuni siapapun, kelompok 4 ada Hanif, Shaula dan Pras, kelompok 5 ada Hakim dan Rizka, dan kelompok 6 ada Rendra, Ina, dan Dyza. Masing-masing kelompok diwajibkan menunjuk seseorang untuk menjadi ketua kelompok, seorang untuk sekretaris, dan membentuk sebuah nama kelompok. Setelah itu dipresentasikan kesemua itu.

Keanehan kelima: 4 dari 6 ketua kelompok adalah anak 8!
(well, ini bukan keanehan dari acaranya, tapi keanehan secara global. Tapi, dimasukin aja deh) Ya, hampir semua kelompok yang dihuni anak 8 memiliki ketua kelompok anak 8 juga, kecuali kelompok 3 yang kesemuanya anak SMK, dan kelompok gue. Mengapa gue gak mau jadi ketua? Karena gue lebih senang mendedikasikan diri gue sebagai seorang sekretaris (walaupun . Ketua kelompok gue bernama Isna, anak Teknik SMK Bakti Dhata (seinget gue). Setelah presentasi, materi demi materipun kami lahap. Coffee break, materi Public Speaking lagi, lalu ishoma.

Keanehan keenam: Para lelaki (baca: Pras dan Hakim) rajin menyambangi persinggahan kami.
(ini juga termasuk keanehan global) Mereka menerapkan sistem "sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui". Maksudnya, ketika mereka sholat, di mana tempat sholat itu terletak di depan persinggahan kami, mereka sekalian mengunjungi kami. Baik ya? Mereka (baca: Pras) juga sering sekali menawarkan persinggahan mereka untuk disambangi. Terima kasih, tapi pada akhirnya kami tidak pernah melakukannya karena tidak ada pulau lain yang bisa dilampaui jika kami ke sana.

Setelah itu, materi Enterpreneurship yang menarik sehingga gue sempet sakit perut dan tertidur sebentar untuk mengurangi rasa sakit itu. Entah, apa karena materinya yang menarik atau gue, yang lagi-lagi teracuni pada saat makan malam. Coffee break, lalu dilanjutkan dengan diskusi tema. Kelompok gue melakukan hal yang fatal, padahal sudah gue peringatkan sebelumnya. Setelah itu, kami kembali ke peraduan kami di pulau kapuk.

Namun, dasar bandel. Kami, para wewanita, tidak langsung tertidur. Tetapi kami malah menepuk-nepuk nyamuk sembari mengejar para bebabian. Namun, jangan percaya itu semua, karena itu bohong! Kami bersenda gurau dan diperadukan ke pulau kapuk.

Kami tidur telat dan (pasti) bangun telat. Ina (yang dengan segenap maaf gue haturkan atas alarm HP gue yang super berisik dan gue gak kunjung bangun) sepertinya telah bangun duluan. Gue baru bangun jam setengah enam dan langsung sholat subuh. Lalu jam setengah tujuh kami dikumpulkan di lapangan depan tempat pelatihan untuk berolah raga dan olah rasa. Kami melakukan senam peregangan, dan dilanjutkan dengan dua team building games.

  1. Game pertama: Memindahkan gelas yang ada di atas taplak ke suatu titik. Semua tangan anggota kelompok harus ada di pinggir taplak, bukan tempat lain. Kami juga harus melewati rintangan. Alhamdulillah, kelompok gue memelopori kesuksesan game ini ke kelompok lain.
  2. Game kedua: Mengambil jeruk yang ada di luar batas kekuasaan kaki dan badan. Jadi, beberapa utusan kelompok kami harus mengambil jeruk yang terletak di arena "Hand Only". Dengan kata lain, hanya tangan yang boleh menyentuh tanah di arena itu. Namun, tak ada satu kelompokpun yang berhasil pada game ini.
Setelah itu ishoma+mandi, dan simulasi materi yang telah didapat kemarin. Kami harus membentuk suatu usaha dengan berbagai macam rincian yang harus kami penuhi. Kemudian dilanjutkan dengan penutupan dan berkemas menuju bis masing-masing untuk pulang ke Jakarta.

Note sampah: Kami (anak 8) mendapati bahwa anak SMK memiliki sifat pemberani, kritis, dan cerdik. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya komentar dan sanggahan yang hinggap di telinga kami. Cerdik, karena mereka dengan mudah mendapatkan pahala dari kami :)

INI SERU dan gue gak nyesel ikut ini HAHAHA

28 July 2009

for those who have writer-egg :)

I found something interesting. Check this out! (I also started to apply this to my writings)


Tiga Elemen Penulisan Kreatif dalam Blog
by Raditya Dika

Dalam menulis sebuah entry blog yang asyik, kita dapat menggunakan elemen-elemen penulisan kreatif yang kebanyakan dipelajari untuk membuat sebuah karangan fiksi. Di bawah ini saya mencoba untuk memberikan tiga elemen penulisan kreatif yang bisa diaplikasikan dalam membuat sebuah entry blog yang menarik.

1. First Sentences yang Menarik
Let’s face it. Di dalam ranah dunia internet, kita semua somewhat terkena ADD (attention disorder deficit). Pembaca punya attention span yang rendah. Jika mereka tidak suka dengan blog kita mereka bisa dengan mudah langsung pindah ke website lain dengan satu kali klik.

Nah, inilah mengapa kita perlu first sentence yang punya dahsyat di dalam entry kita.

Di dalam dunia perbukuan dan menulis, semua buku yang baik punya first sentences yang engaging untuk membawa pembaca larut ke kalimat-kalimat selanjutnya sampai buku tersebut habis. Di dalam dunia blog, entry Anda juga harus punya first sentences yang cihui agar orang tercantol dalam waktu singkat.

Apa yang terjadi jika Anda tersasar ke sebuah blog dan kalimat pertama yang Anda baca seperti ini:
“Gue pagi ini bangun terus gue mandi. Ke sekolah lagi. Males deh.” Kemungkinan besar, Anda berpikir “Yeah, diary anak sekolahan lagi. Biasa banget. Males ah.” Lantas Anda menutup browser tersebut.

Bandingkan jika Anda tersasar ke sebuah blog dan rangkaian kalimat yang pertama Anda baca seperti ini:
“Untuk pertama kalinya saya akan bercerita tentang sejarah “Seratus” dalam hidup saya. Bukan karena cerita itu teramat penting dan besar, tapi justru karena keremehannya yang luar biasa.”

Saya, begitu membaca first sentences barusan akan berpikir, “Apa sih ‘seratus’ ini? Seberapa remeh dia?” Selanjutnya, saya membaca tulisan tersebut sampai habis. Tulisan yang kedua, saya kutip dari blog Dewi Lestari.

Kecermatan dan kepiawaian kita untuk membuat first sentences yang menarik akan membuat pembaca tergelitik untuk membaca kalimat-kalimat berikutnya. Setelah itu, Anda hanya perlu konsisten untuk membuat kalimat-kalimat berikutnya bisa sebaik kalimat yang pertama Anda buat.

Ingat, tulisan Anda harus punya hook. Anda harus punya sesuatu yang merangsang rasa penasaran sekaligus keinginan pembaca yang tiba-tiba tersasar. Tanyakan ini pada diri Anda sendiri: “Jika gue nyasar ke blog gue sendiri dan ngebaca kalimat pertama ini, gue bakal mau baca sampe abis gak ya?”

2. Buatlah Tulisan yang Ekonomis
Robert McKee, seorang lecturer dalam bidang penulisan, pernah berkata “90% of first drafts is shit”. Ini berarti, kebanyakan, tulisan yang pertama Anda buat pertama kali adalah jelek. Tulisan dalam sebuah first draft adalah tulisan yang tidak terstruktur, patah-patah, dan lepas dari otak Anda begitu saja. Kemungkinan besar, tulisan di draft pertama Anda juga adalah tulisan yang verbosal, yaitu tulisan yang terlalu boros kata-kata dan tidak ekonomis.

Nah, sebelum Anda mengklik tombol “post” itu, coba cek kembali apa yang telah Anda tulis. Apakah penggunaan kalimatnya sudah logis? Cek kembali logika kalimat yang salah. Cek kembali ejaan, atau terminologi yang benar. Bunuh semua kata yang tidak perlu. Tulisan yang baik adalah tulisan yang tight: kencang dan sempit. Perhatikan pacing tiap kalimat. Kata demi kata. Apakah tulisan Anda punya tempo yang enak untuk diikuti? Tulisan yang baik adalah tulisan yang seperti musik, ada tempo teratur, ada jeda untuk menarik napas, ada nada yang mengalir.

Baca kembali first draft Anda sebagai seorang pembaca, cek dulu apakah diksi yang Anda gunakan tidak redundan. Misalnya, Anda menemukan kalimat: “gue pergi ke rumah gue pas adek gue pulang dari kampus malem-malem”, ini jelas redundan. Coret semua kata “gue” hingga kalimatnya lebih efektif dan ekonomis, menjadi: “Gue pergi ke rumah, pas adek pulang dari kampus.”

Seperti yang kebanyakan orang bilang, first draft ditulis hanya untuk “mengeluarkan apa yang ada di kepala”. Draft kedua ditulis untuk “memperbaiki apa yang sudah ditulis.” Dan draft ketiga untuk “membuat tulisannya bersinar”. Jangan terburu-buru dalam menulis sebuah tulisan, buatlah menjadi semenarik mungkin.

3. Menemukan dan Menggunakan Voice Anda Sendiri
Pernahkah Anda mengangkat telepon, dan hanya dari mendengar suara orang tersebut Anda mengenali siapa yang sedang berbicara dengan Anda? Setiap manusia diciptakan dengan warna suara yang berbeda-beda. Apa yang cempreng, ada yang berat/husky, ada yang kayak orang kejepit. Apa pun itu, warna suara dapat membedakan antara satu orang dengan orang yang lain.

Seperti halnya dengan dunia penulisan, setiap penulis yang baik pasti punya “voice”-nya sendiri. Anda tahu bagaimana gaya khas Hilman Hariwijaya dalam menulis. Anda tahu, bagaimana tulisan Gunawan Muhammad ketika Anda membacanya. Atau bahkan, Anda bisa menebak diksi (kosakata) apa yang biasanya ada dalam esai-esai politik Eep Saefuloh Fatah. Gaya menulis Djenar Maesa Ayu, gaya Ayu Utami, mereka punya gaya yang khas. Semua penulis tadi punya voice yang begitu khas sehingga orang tahu, begitu membaca tulisan mereka, itu adalah tulisan mereka.

Cara paling gampang untuk tahu apakah Anda sudah punya voice atau belum: jika ibu Anda membaca tulisan Anda, tanpa diberitahu bahwa itu adalah milik Anda, dan dia bisa bilang, “Wah, ini tulisan anak saya.” Berarti selamat, Anda sudah punya voice.

Voice yang khas membantu kita untuk mendeferensiasikan diri dari penulis yang lain. Dalam menulis blog, voice yang khas juga akan membuat kita terlihat berbeda dari penulis blog-blog yang lain. Punya voice akan memisahkan kita dari “blogger lainnya” menjadi “blogger yang itu tuh, yang tulisan begini nih…”. Ndoro Kakung, misalnya masuk ke dalam contoh blogger yang punya voice yang sangat khas.

Lantas, bagaimana cara menemukan voice kita sendiri? Jawabannya sederhana: banyak membaca dan berlatih. Dengan membaca banyak buku yang ditulis penulis lain, sambil menganalisa-nya, kita akan dengan sendirinya mengadaptasi gaya-gaya mereka untuk memperkuat personality dan voice kita sendiri. Mengadaptasi, tentu saja, bukan berarti mencuri.

Layaknya Nidji yang mengagumi britpop, terutama Coldplay, sampai akhirnya bisa menemukan kekhasan aliran lagu miliknya sendiri, mereka berhasil membuat voice yang khas pada karya-karyanya. Atau layaknya Tohpati yang pada awalnya mendengarkan pilihan-pilihan nada yang dimainkan gitaris John Scofield, pada akhirnya Tohpati memelajari dan mengadaptasi permainan gitar orang lain hingga akhirnya dia menemukan sebuah gaya yang uniquely his.

Pelajari bagaimana kekuatan Haruki Murakami dalam mengkonstruksi sebuah dialog, pelajari narasi Chuck Palahniuk yang minimalistik dan maskulin, pelajari bagaimana Hilman Hariwijaya menggiring orang untuk tertawa. Satukan apa yang telah Anda pelajari, tanamkan dalam-dalam dalam diri Anda, dan keluarkan personality Anda sendiri. Keluarkan voice Anda.

Dengan banyak membaca Anda akan mendapatkan banyak referensi. Di samping itu, dengan banyak berlatih Anda akan tahu cara penyampaian seperti apa yang paling asik untuk Anda. Anda akan memilih diksi yang paling mewakili gaya tulisan Anda. Menulis dan berlatih, dan jadilah berbeda dari orang-orang yang lain.
Tentu saja, tiga elemen di atas hanya sebagian kecil contoh bagaimana kita menggunakan elemen penulisan kreatif untuk membuat postingan blog kita menjadi lebih baik. Masih banyak elemen-elemen lain: komposisi narasi vs dialog, deskripsi yang efektif, setting dan konteks, dan lain-lain.

Hope that helps!